Pelatih Belgia, Mark van Bommel, menantikan duel Van Bommel lawan Prancis pada lanjutan Nations League. Laga yang mempertemukannya dengan Zinedine Zidane itu dianggap sebagai ujian terberat sejak ia menangani Tim Red Devils, dan bakal digelar di Stade Roi Baudouin. Bagi pelatih asal Belanda tersebut, pertemuan dengan Zidane punya arti tersendiri karena keduanya pernah bersua di lapangan saat masih aktif sebagai pemain.
Antusiasme itu lahir setelah Belgia membuka kampanye Nations League dengan hasil meyakinkan. Pasukan Van Bommel menundukkan Italia 2-0 di Stadio Olimpico, sementara Prancis di bawah komando baru Zidane juga memetik kemenangan 1-0 atas Turkiye. Artinya, kedua tim melangkah ke pertemuan ini dengan modal tiga poin dan sama-sama sedang dalam masa transisi kepelatihan.

Bekal Belgia: Menang 2-0 atas Italia di Roma
Belgia memulai era Van Bommel dengan kemenangan 2-0 atas Italia di Stadio Olimpico. Mika Godts membuka keunggulan pada babak pertama, lalu Dodi Lukebakio menutup laga dengan gol di babak kedua. Dua gol tersebut membuat Belgia pulang dengan tiga poin penuh dari salah satu markas tersulit di Eropa.
Kekalahan itu meninggalkan catatan pahit bagi Italia. Untuk baru kedua kalinya dalam 40 tahun terakhir, Gli Azzurri kalah di kandang sendiri sekaligus kebobolan dua gol tanpa mampu membalas satu pun. Kejadian serupa sebelumnya terjadi ketika Italia takluk dari Kroasia pada Agustus 2006, sehingga kekalahan dari Belgia ini masuk ke dalam daftar hasil terburuk mereka di era modern.
Kemenangan Belgia bukan sekadar soal skor. Dari sisi expected goals (xG), Belgia mencatatkan angka 2,76 dari 19 tembakan, sedangkan Italia hanya mengumpulkan 1,7 dari 21 percobaan. Dengan kata lain, meski jumlah tembakan Italia lebih banyak, kualitas peluang yang diciptakan Belgia jauh lebih baik dan efisien.
Dua Pelatih Baru di Kursi Masing-Masing Tim
Van Bommel mengambil alih kursi pelatih Belgia dari Rudi Garcia setelah gelaran Piala Dunia. Ia langsung dituntut membangun identitas baru sekaligus menjaga standar tinggi yang sudah tertanam di skuad Belgia. Laga melawan Prancis menjadi kesempatan sekaligus tantangan untuk membuktikan bahwa arah barunya berjalan tepat.
Di kubu seberang, Prancis juga sedang menjalani babak baru. Zidane dipercaya memimpin Les Bleus dan langsung membuka Nations League dengan kemenangan 1-0 atas Turkiye. Kylian Mbappe menjadi pencetak gol dalam laga tersebut, sekaligus menegaskan bahwa Prancis tetap punya ujung tombak yang mampu menentukan hasil pertandingan.
Karena itu, pertemuan di Stade Roi Baudouin bukan hanya soal tiga poin. Ini adalah bentrokan dua pelatih yang baru duduk di bangku kepelatihan tim nasional besar, masing-masing dengan gaya dan gagasan sepak bola yang ingin dibuktikan. Bagi Van Bommel, menghadapi Zidane terasa istimewa karena ia mengagumi rekam jejak pria Prancis itu, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.
Mbappe Absen, Van Bommel Menyesalkan Hal Itu
Menjelang laga tersebut, Prancis menerima kabar buruk. Mbappe dipastikan absen menghadapi Belgia setelah didiagnosis mengalami hiperekstensi pada lutut kirinya. Penyerang itu menjadi sosok paling berbahaya di lini depan Prancis, sehingga kehilangannya jelas mengurangi daya gedor tim asuhan Zidane.
Van Bommel mengaku kecewa mendengar kondisi tersebut. Menurutnya, sebuah pertandingan besar selalu terasa lebih menarik bila semua pemain terbaik bisa tampil. Ia pun berharap Mbappe dapat segera kembali ke lapangan setelah menjalani pemulihan.
"Saya pikir sayang sekali Mbappe tidak ada di sana, karena Anda selalu ingin pemain terbaik bermain melawan Anda," ujar Van Bommel. "Saya tidak tahu persis cedera apa yang dialaminya, tetapi saya berharap ia bisa hadir."
Pujian Van Bommel untuk Zidane
Van Bommel menaruh respek besar kepada Zidane. Keduanya pernah beradu di lapangan ketika Van Bommel memperkuat Barcelona dan Zidane membela Real Madrid. Pengalaman itu membuatnya memahami betul kualitas yang dimiliki Zidane, baik sebagai pemain maupun sebagai sosok yang kini memimpin dari pinggir lapangan.
"Adalah hal istimewa bisa melatih melawan orang seperti itu," kata Van Bommel. "Dia pesepak bola yang luar biasa dan saya pernah bermain melawannya sekali, bersama Barcelona menghadapi Real Madrid."
Ia juga menyoroti warisan teknis Zidane yang begitu dikenal lewat gerakan khas dalam permainan. Menurut Van Bommel, kemampuan itu menjadi tanda bahwa Zidane berhasil di level tertinggi, dan kini kualitas serupa ia bawa ke dunia kepelatihan. "Kalau ada satu gerakan menggiring bola yang dinamai sesuai nama Anda, berarti Anda sudah melakukan sesuatu dengan sangat baik. Sebagai pelatih juga begitu, tentu saja. Dia pelatih yang bagus, itu jelas," tambahnya.
Gaya Main Belgia Tidak Akan Berubah
Menatap laga besar, Van Bommel tidak berencana mengubah pendekatannya. Sejak hari pertama menjabat, ia menekankan intensitas dan kemauan bekerja keras sebagai fondasi permainan timnya. Prinsip itu ia anggap harus tetap dipegang, apa pun kualitas lawan yang dihadapi.
"Saya memulai [masa kepelatihan] hari Senin lalu dengan menekankan intensitas dan kemauan untuk bekerja," ujar Van Bommel. "Gagasannya harus tetap sama. Tentu, Anda perlu memperhitungkan kualitas lawan, tetapi itu tidak mengubah gaya permainan kami."
Ia juga menegaskan bahwa kesalahan individual bukan hal yang perlu ditakuti berlebihan. Yang terpenting, setiap pemain memahami tugas dan tanggung jawabnya di atas lapangan. Dengan pendekatan itu, Belgia berharap bisa tampil agresif seperti ketika menaklukkan Italia, tanpa mengorbankan disiplin menghadapi tim sekuat Prancis.
Setelah Prancis, Turkiye dan Duel Ulang Menanti
Pertandingan melawan Prancis bukan satu-satunya agenda Belgia pada jeda internasional ini. Setelah laga di Stade Roi Baudouin, mereka akan menjamu Turkiye di kandang sendiri. Jadwal tersebut membuat Belgia harus pintar mengatur tenaga dan rotasi pemain.
- Laga kontra Prancis di Stade Roi Baudouin menjadi ujian berat pertama bagi Van Bommel.
- Belgia kemudian menjamu Turkiye pada laga berikutnya.
- Jeda internasional ditutup dengan pertemuan kedua melawan Prancis di Stade de France pada 5 Oktober.
Duel ulang di Stade de France pada 5 Oktober membuat kedua tim bertemu dua kali dalam satu periode yang relatif singkat. Situasi ini jarang terjadi di kompetisi antarbangsa dan memberi keduanya kesempatan untuk saling membaca taktik. Bagi Belgia, hasil di dua pertemuan tersebut bisa sangat menentukan posisi mereka di grup Nations League.
Bagi Prancis, rangkaian ini juga menjadi momen untuk mengukur kedalaman skuad, terutama dengan absennya pemain sekaliber Mbappe. Zidane dituntut membuktikan bahwa timnya tidak bergantung pada satu nama saja. Sementara di sisi Belgia, konsistensi menjadi kata kunci setelah penampilan meyakinkan di Roma.
Kesimpulan
Duel Van Bommel lawan Prancis menjadi salah satu laga paling menarik pada lanjutan Nations League kali ini. Belgia datang dengan modal kemenangan 2-0 atas Italia dan performa menyerang yang efisien, sedangkan Prancis melangkah dengan kemenangan atas Turkiye meski kehilangan Mbappe karena cedera lutut. Pertemuan dua pelatih baru, Van Bommel dan Zidane, menambah dimensi tersendiri bagi laga di Stade Roi Baudouin.
Terlepas dari hasil akhirnya, Van Bommel sudah menegaskan bahwa identitas timnya tidak akan berubah. Intensitas, kemauan bekerja, dan keberanian menyerang tetap menjadi acuan, bahkan ketika lawan yang dihadapi sekuat Prancis. Dengan jadwal padat yang menanti, termasuk duel ulang di Stade de France, laga ini bisa menjadi penanda seberapa jauh proyek baru Belgia sudah berjalan.

