Mantan gelandang Manchester United, Fred, melayangkan kritik tajam terhadap Erik ten Hag. Berbicara di Charla Podcast, pemain asal Brasil itu menyebut mantan bosnya tersebut sebagai "sampah" karena cara mengelola skuad, meski ia tetap mengakui kehebatan sang pelatih dari sisi taktik. Kritik Fred ini sontak mencuatkan kembali perdebatan soal gaya kepemimpinan Ten Hag selama menangani Setan Merah.
Pernyataan tersebut terasa menohok karena Fred adalah pemain yang sempat merasakan langsung masa kepelatihan Ten Hag sekaligus pendahulunya, Jose Mourinho. Ten Hag sendiri bukan pelatih tanpa prestasi, sebab ia mempersembahkan trofi FA Cup dan EFL Cup sebelum akhirnya dipecat pada Oktober 2024. Namun bagi Fred, deretan pencapaian itu tidak cukup menutupi persoalan yang menurutnya terjadi di dalam ruang ganti.

Fred Kritik Ten Hag: "Dia Sampah soal Grup"
Dalam wawancara itu, Fred membedakan dengan jelas antara kemampuan taktik Ten Hag dan cara pelatih berusia 56 tahun tersebut menangani pemain. Ia mengaku Ten Hag adalah salah satu pelatih terbaik yang pernah bekerja sama dengannya dari sisi strategi, tetapi menilai pendekatannya terhadap kelompok justru jauh dari kata memadai. Perbedaan tajam inilah yang menjadi inti kritiknya.
"Ten Hag secara taktik sangat bagus, tapi soal grup dia sampah," ujar Fred. Ia lalu membeberkan sejumlah konflik yang terjadi selama masa kepelatihan tersebut. Menurut Fred, Ten Hag berselisih dengan banyak pihak, mulai dari dirinya sendiri hingga nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Casemiro, dan Marcus Rashford.
Fred juga mengungkapkan kekecewaannya karena jarang mendapat kesempatan bermain. Ia menyebut situasi itu membuatnya tertekan, terutama ketika harus menyaksikan pemain lain terus dipercaya sementara dirinya hanya menghabiskan waktu di bangku cadangan. Kritik ini menambah panjang daftar keluhan yang pernah muncul dari para pemain selama Ten Hag memimpin.
Lebih jauh, Fred menyinggung soal kecenderungan Ten Hag yang dianggap hanya mengandalkan pemain asal Belanda. Ia menyebut sang pelatih sebagai sosok yang memimpin dengan kelompok-kelompok kecil di dalam tim. Meski begitu, Fred tetap menegaskan bahwa secara taktik, Ten Hag termasuk yang terbaik yang pernah ia temui.
Jejak Erik ten Hag di Manchester United
Ten Hag ditunjuk sebagai pelatih Manchester United pada Juni 2022. Selama periode tersebut, ia berhasil mempersembahkan dua trofi, yakni FA Cup dan EFL Cup, sebuah capaian yang tidak bisa dibilang kecil di tengah tekanan besar yang menyertai kursi pelatih Setan Merah. Meski demikian, perjalanannya harus berakhir ketika klub memutuskan memecatnya pada Oktober 2024.
Dari 128 pertandingan yang ia jalani sebagai pelatih United, Ten Hag mencatatkan 70 kemenangan, 23 hasil imbang, dan 35 kekalahan. Ia juga sempat membawa timnya melaju hingga final FA Cup pada musim 2022-23, meski akhirnya gagal meraih gelar tersebut. Statistik ini menggambarkan perjalanan yang naik-turun, dengan momen gemilang yang berselang-seling dengan periode sulit.
Menarik untuk dicermati, sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, hanya dua pelatih tetap United yang memiliki persentase kemenangan lebih baik daripada Ten Hag. Keduanya adalah Jose Mourinho dan Michael Carrick, yang masing-masing mencatatkan 58,3 persen, sementara Ten Hag berada di angka 54,7 persen. Data ini menunjukkan bahwa secara angka, masa kepemimpinan Ten Hag sebenarnya tidak seburuk yang sering digambarkan.
Dampak Kritik terhadap Reputasi Ten Hag
Kritik yang disampaikan Fred menyoroti satu aspek yang selama ini jarang tersentuh oleh statistik, yaitu kemampuan mengelola hubungan dengan pemain. Seorang pelatih bisa memiliki pemahaman taktik yang cemerlang, tetapi tanpa kemampuan menjaga keharmonisan ruang ganti, hasil di lapangan sering kali tetap tidak stabil. Inilah yang tampaknya menjadi persoalan inti menurut Fred.
Bagi Ten Hag, pernyataan semacam ini bisa memperkuat citra bahwa ia kesulitan menjalin komunikasi dengan para pemain. Isu mengenai pemain yang merasa tidak diperlakukan adil, atau tentang adanya kelompok tertentu yang lebih diutamakan, dapat berdampak pada kepercayaan pihak lain terhadapnya di masa mendatang. Reputasi seorang pelatih tidak hanya dibangun dari trofi, tetapi juga dari bagaimana ia diperbincangkan oleh pemain yang pernah bekerja di bawahnya.
Di sisi lain, kritik Fred juga mengingatkan bahwa persoalan di Manchester United tidak bisa direduksi hanya pada satu figur. Pergantian pelatih yang terus terjadi pasca-Ferguson menunjukkan bahwa masalah klub ini jauh lebih berlapis, mulai dari manajemen, kebijakan transfer, hingga budaya internal yang sulit diubah dalam waktu singkat.
Perbandingan Kontras dengan Jose Mourinho
Dalam wawancara yang sama, Fred justru memberi pujian tinggi kepada Mourinho, sosok yang membawanya ke Manchester United pada 2018. Keduanya kembali bekerja sama di Fenerbahce pada musim lalu, dan Fred mengaku jauh lebih nyaman berada di bawah arahan pelatih yang kini menangani klub ibu kota Spanyol, Real Madrid, tersebut. Perbedaan cara Mourinho dan Ten Hag memperlakukan pemain menjadi sorotan utama.
"Mourinho pria hebat, dia lucu. Saya baru saja bersamanya di Fenerbahce; dia yang membawa saya ke United," kata Fred. Ia juga menceritakan momen ketika nama Mourinho sempat dikaitkan dengan tim nasional Brasil sebelum kedatangan Carlo Ancelotti. Menurut Fred, sang pelatih menanggapinya dengan santai dan jenaka.
Fred mengisahkan bagaimana ia menunjukkan rumor tersebut kepada Mourinho, yang lantas membalas dengan nada bercanda bahwa dirinya tidak akan ke mana-mana dan akan tetap menangani klubnya. Bagi Fred, sikap itu memperlihatkan sosok Mourinho sebagai pribadi yang menyenangkan dan terbuka. Kontras antara kedua pengalaman inilah yang membuat kritiknya terhadap Ten Hag terasa semakin tajam.
Apa Artinya bagi Masa Depan Ten Hag
Pernyataan seorang mantan pemain seperti Fred bisa menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi klub mana pun yang tengah mempertimbangkan untuk merekrut Ten Hag. Isu soal kemampuan manajemen pemain adalah hal yang sulit diukur lewat statistik pertandingan, namun dampaknya nyata dalam jangka panjang. Jika pola serupa muncul berulang, hal itu bisa memengaruhi peluangnya untuk kembali menangani klub besar.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa kritik dari satu pemain tidak bisa langsung dijadikan gambaran menyeluruh. Setiap pemain memiliki pengalaman yang berbeda, dan tidak semua mantan anak asuhnya memiliki pandangan yang sama. Yang jelas, perdebatan tentang gaya kepemimpinan Ten Hag akan terus menjadi topik menarik sepanjang ia masih berkecimpung di dunia kepelatihan.
Bagi Manchester United, cerita semacam ini menjadi pengingat bahwa membangun kembali kejayaan pasca-era Ferguson membutuhkan lebih dari sekadar pelatih bertaktik hebat. Diperlukan sosok yang mampu menyatukan ruang ganti, menjaga kepercayaan pemain, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi semua orang, bukan hanya segelintir nama.
Kesimpulan
Kritik pedas Fred terhadap Erik ten Hag membuka tabir soal sisi lain dari kepemimpinan seorang pelatih yang secara taktik diakui berkualitas. Lewat Charla Podcast, Fred menilai Ten Hag gagal mengelola grup, memicu konflik dengan banyak pemain, dan cenderung mengutamakan kelompok tertentu. Meski begitu, ia tetap mengakui kehebatan taktik sang pelatih, sebuah pengakuan yang sekaligus menunjukkan betapa kompleksnya peran seorang manajer di level atas.
Sementara itu, pujian Fred terhadap Mourinho menjadi pembanding yang menegaskan bahwa kemampuan membangun hubungan personal dengan pemain sama pentingnya dengan kecerdasan taktik. Bagi para penggemar, kisah ini menambah lapisan pemahaman bahwa kesuksesan sebuah tim tidak pernah sekadar soal formasi dan strategi di atas lapangan, melainkan juga tentang bagaimana manusia-manusia di dalamnya dikelola dengan baik.

