Pelatih timnas Norwegia, Stale Solbakken, menegaskan bahwa anak asuhnya tidak akan bermain bertahan saat bertandang ke markas Portugal pada lanjutan UEFA Nations League. Ia menyebut Norwegia bukan tim low-block dan berencana tampil menyerang sejak menit pertama di Estadio do Dragao. Pernyataan itu menjadi sinyal jelas bahwa Norwegia datang bukan sekadar untuk menahan imbang tuan rumah.
Duel Norwegia vs Portugal ini menjadi laga yang menarik karena kedua tim baru saja bertemu pada pertemuan pertama di Norwegia, dan Portugal pulang dengan kemenangan 2-1. Meski kalah, Norwegia tampil dominan dalam hal penguasaan bola dan penciptaan peluang pada laga tersebut. Kondisi itu membuat laga tandang kali ini terasa seperti kesempatan pembalasan sekaligus ujian apakah Norwegia bisa mempertahankan gaya bermainnya ketika berada di kandang lawan.

Solbakken Tegaskan Norwegia Bukan Tim Low-Block
Dalam konferensi pers menjelang laga, Solbakken menyampaikan sikapnya dengan sangat tegas. Ia menolak anggapan bahwa Norwegia akan mengunci pertahanan dan mengandalkan serangan balik di Portugal. Menurutnya, identitas timnya adalah bermain terbuka dan selalu mencari gol.
"Kami bukan tim low-block. Kami selalu bermain dengan kepala tegak, mencari gol. Saya rasa para pemain juga merasakan bahwa kami bisa menyerang gawang Portugal," ujar Solbakken.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Pada pertemuan sebelumnya di Norwegia, pasukannya memang tampil agresif dan berani menekan sejak awal pertandingan. Solbakken bahkan menyebut 60 menit pertama di laga tersebut sebagai salah satu penampilan terbaik yang pernah ditunjukkan timnya. Ia berharap pola permainan seperti itu bisa diulang, meski kali ini ia sadar situasinya akan berbeda karena Portugal bermain di hadapan pendukungnya sendiri.
Latar Belakang: Hasil Buruk Norwegia di Jeda Internasional Ini
Rencana menyerang itu muncul di tengah catatan hasil yang kurang memuaskan bagi Norwegia. Dari tiga pertandingan Nations League pada jeda internasional kali ini, mereka hanya meraih satu kemenangan dan menelan dua kekalahan. Hasil terakhir adalah kekalahan 2-1 dari Wales, sebuah laga yang berjalan berat setelah Torbjorn Heggem mendapat kartu merah pada awal babak kedua.
Kekalahan lainnya datang dari Portugal pada pertemuan pertama, dengan skor identik 2-1 untuk tim tamu. Meski kalah, Norwegia sebenarnya unggul jauh dalam hal expected goals (xG) dengan angka 2,52 berbanding 1,04. Mereka juga menciptakan enam peluang besar versi Opta dan menguasai bola hingga 62 persen sepanjang pertandingan.
Data tersebut menjelaskan mengapa Solbakken percaya diri untuk kembali bermain menyerang. Norwegia terbukti mampu menciptakan peluang berkualitas melawan Portugal, hanya saja penyelesaian akhir dan efektivitas di momen krusial menjadi pembeda hasil akhir. Dengan kata lain, masalah Norwegia bukan pada cara bermain, melainkan pada ketajaman di depan gawang dan konsentrasi di lini belakang.
Tantangan Norwegia vs Portugal di Estadio do Dragao
Solbakken mengakui bahwa mendominasi pertandingan di kandang Portugal jauh lebih sulit dibanding melakukannya di Norwegia. Ia menaruh rasa hormat besar kepada Portugal dan menilai tim asuhan tuan rumah saat ini berada di jajaran dua atau tiga terbaik di Eropa. Karena itu, ia menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan situasi pertandingan.
"Saya sangat menghormati Portugal. Tim ini ada di peringkat dua atau tiga teratas di Eropa saat ini. Portugal menekan dengan sangat baik dan intensitasnya tinggi, jadi kami harus berpikir dengan cara berbeda," kata Solbakken.
Ia juga mengingatkan bahwa Portugal kemungkinan menyiapkan rencana baru setelah melihat bagaimana Norwegia mampu menembus koridor tengah pada laga pertama. Menurut Solbakken, para pemainnya harus siap mengubah pendekatan bila tuan rumah menutup ruang di area tersebut. Ia menegaskan timnya akan memberikan yang terbaik dan melihat seberapa jauh mereka bisa melangkah di laga ini.
Rekor Buruk Norwegia dan Tren Kebobolan yang Mengkhawatirkan
Selain kualitas lawan, sejarah pertemuan kedua tim juga menjadi beban tersendiri bagi Norwegia. Dari 12 pertemuan melawan Portugal, Norwegia kalah sembilan kali, dengan satu kemenangan dan dua hasil imbang. Angka kekalahan 75 persen itu menjadi persentase kekalahan tertinggi ketiga bagi Norwegia di antara semua lawan yang pernah mereka hadapi lebih dari lima kali, setelah 83 persen melawan Uni Soviet dan 77 persen melawan Yugoslavia.
Ada pula tren pertahanan yang perlu segera dibenahi. Norwegia kebobolan minimal dua gol dalam masing-masing dari empat pertandingan terakhir mereka. Terakhir kali mereka mengalami lawan yang mencetak dua gol atau lebih dalam lima laga beruntun adalah pada periode 1975-1976, ketika rentetan itu bahkan mencapai enam pertandingan.
Kombinasi catatan historis dan tren kebobolan tersebut membuat rencana menyerang ala Solbakken mengandung risiko. Bermain terbuka di kandang Portugal bisa membuka ruang bagi lini serang tuan rumah yang dikenal menekan dengan intensitas tinggi. Di sisi lain, bertahan pasif juga bukan pilihan yang sesuai dengan karakter tim ini.
Artinya bagi Norwegia dan Arah Permainan Selanjutnya
Pendekatan Solbakken menunjukkan bahwa ia lebih memilih mempertahankan identitas permainan ketimbang menyesuaikan diri sepenuhnya dengan kekuatan lawan. Keputusan ini membawa konsekuensi jelas: Norwegia harus jauh lebih efektif dalam memanfaatkan peluang dan lebih disiplin saat kehilangan bola. Jika tidak, dominasi statistik seperti pada laga pertama hanya akan berakhir dengan hasil yang sama.
Bagi Portugal, pernyataan Solbakken bisa menjadi peringatan sekaligus peluang. Tim tuan rumah tahu bahwa lawannya tidak akan menumpuk pemain di kotak penalti, sehingga ruang di lini tengah berpotensi lebih terbuka. Pertandingan ini pun menjadi ujian bagi kemampuan Portugal mengubah rencana setelah pada laga pertama kesulitan menembus permainan Norwegia di koridor tengah.
Terlepas dari hasilnya, laga ini akan memperlihatkan seberapa matang Norwegia dalam menjalankan gaya bermain menyerang di level kompetisi antarnegara. Bermain terbuka melawan salah satu tim terkuat Eropa di kandangnya sendiri adalah ukuran yang jujur bagi perkembangan sebuah tim.
Penutup
Norwegia datang ke Estadio do Dragao dengan keyakinan bahwa mereka bisa menyerang Portugal, bukan sekadar bertahan. Keyakinan itu dibangun dari penampilan dominan pada pertemuan pertama, meski hasil akhirnya kurang menguntungkan. Solbakken ingin timnya tetap bermain dengan kepala tegak dan terus mencari gol.
Namun, tantangannya tidak ringan. Rekor pertemuan yang buruk dan tren kebobolan dua gol dalam empat laga terakhir menjadi pengingat bahwa keberanian menyerang harus dibarengi dengan kedisiplinan bertahan. Laga ini akan menjadi pembuktian apakah Norwegia benar-benar bisa membawa permainannya ke Portugal, atau justru dipaksa menyesuaikan diri oleh tekanan tuan rumah.

