Karier asisten wasit FA Cup Dan Robathan harus berakhir lebih cepat dari yang ia bayangkan. Setelah bertahun-tahun meniti karier hingga level elit, wasit asal Inggris berusia 38 tahun itu terpaksa pensiun secara medis karena tumor jinak di tulang belakangnya. Keputusan ini datang bukan karena ia kehilangan semangat, melainkan karena kondisi tubuhnya tak lagi mampu menopang tuntutan pekerjaan di lapangan.
Robathan bukan nama sembarangan di dunia perwasitan. Ia adalah asisten wasit yang bertugas di ajang Premier League dan terdaftar sebagai ofisial FIFA, dan pada Mei 2025 ia berdiri di garis lapangan final FA Cup antara Crystal Palace dan Manchester City. Puncak karier itu ternyata hanya berselang beberapa bulan sebelum gejalanya mulai muncul. Bagi banyak orang, kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik sorotan pertandingan besar, ada manusia yang harus bergulat dengan persoalan kesehatan yang jauh lebih berat.

Tumor di Tulang Belakang yang Mengubah Hidup Asisten Wasit FA Cup
Awalnya, Robathan mengira masalah yang ia alami hanyalah nyeri saraf skiatik biasa atau keausan akibat rutinitas sebagai wasit. Rasa sakit itu ia anggap wajar mengingat tuntutan fisik dari pekerjaannya. Namun, ketika gejalanya kian memburuk, pemeriksaan lebih lanjut mengungkap sesuatu yang jauh lebih serius: dua tumor jinak tumbuh di tulang belakangnya.
"Saya menemui ahli bedah saraf yang memberi tahu saya punya dua tumor, awalnya saya pikir hanya satu, ternyata dua," kenang Dan dalam wawancaranya dengan BBC Newsbeat. Tumor itu menekan saraf, dan ada kemungkinan mengenai saraf motorik yang bisa memengaruhi fungsi kakinya. Ia pun diminta pulang, berbaring, dan tidak banyak bergerak.
Ia menjalani instruksi tersebut selama 15 hari. Dalam kurun waktu itu, hidupnya berubah total dalam semalam. Dari seorang yang rutin berlari di sisi lapangan, ia mendapati dirinya terpaku di tempat, menunggu operasi yang akan menentukan masa depannya.
Dari Lapangan Kampung ke Elit Sepak Bola Dunia
Perjalanan Robathan di dunia perwasitan dimulai sejak ia berusia 10 tahun, ketika ia pertama kali mengangkat bendera sebagai asisten. Dari sepak bola akar rumput, ia menanjak perlahan hingga akhirnya menembus level tertinggi. Sepanjang kariernya, ia tercatat bertugas di lebih dari 200 laga Premier League serta pertandingan kualifikasi Piala Dunia.
Ketika bertugas di final FA Cup, Dan menyebut pengalaman itu sebagai "hak istimewa berdiri di sana mewakili lebih dari 37.000 wasit di seluruh negeri". Pencapaian itu bukan hal kecil, mengingat jalan menuju level wasit elit sangat sempit. Federasi Sepak Bola Inggris (FA) bahkan menggambarkan ofisial pertandingan FIFA sebagai "puncak tangga kepemimpinan" dalam dunia perwasitan.
Foto-foto Dan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan berbagai momen yang lazim dialami seorang ofisial kelas atas. Ia pernah terlihat memeluk manajer Liverpool saat itu, Arne Slot, menjelaskan sebuah keputusan kepada Emiliano Martinez, hingga memimpin pertandingan tanpa penonton ketika pandemi Covid melanda. Di media sosialnya, ia juga membagikan potret keseharian seorang wasit elit, mulai dari gemuruh penonton sampai sprint demi memastikan keputusan cepat yang tepat.
Gejala Serius dan Perjuangan Menuju Pemulihan
Bagi dunia luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun di balik itu, Dan mulai merasakan masalah yang cukup serius, mulai dari disfungsi seksual hingga gangguan kandung kemih yang membuatnya harus buang air kecil dengan cara duduk. "Sampai pada titik di bulan September [2025], saya merasa ada yang benar-benar tidak beres," ujarnya.
Ahli bedah saraf memastikan ia mengidap dua tumor di tulang belakang, dan hidupnya seakan berhenti. Ia mengaku dihantui rasa takut dan cemas, terutama karena tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih. Pertanyaan-pertanyaan besar memenuhi kepalanya: seperti apa hidupnya nanti, apakah ia masih bisa menjadi pria yang normal, dan apakah ia akan bisa berjalan lagi.
Tim medis mengangkat salah satu tumor dan membiarkan satu lainnya karena dinilai aman. Meski kedua tumor itu tergolong non-kanker, kerusakan yang ditimbulkannya cukup signifikan. Dan menggambarkan proses pemulihan setelah operasi sebagai sesuatu yang "brutal".
Meski begitu, tidak ada keraguan dalam dirinya bahwa ia akan kembali ke lapangan. Namun hingga Natal 2025, ia masih merasa lelah dan kesulitan mengangkat tumit, berjalan, bahkan merasakan betisnya. "Ahli bedah mengatakan peluang saya kembali ke lapangan di bawah 10 persen, tapi saat itu saya berpikir saya tidak peduli, saya akan membuktikan semua orang salah," kenang Dan.
Sayangnya, meski ia berjuang habis-habisan, ia tetap tidak mampu mengembalikan tingkat kebugarannya. Pada minggu ini, ia akhirnya terpaksa pensiun secara medis, dan menurutnya keputusan itu seolah "dibuat untuknya" oleh keadaan. Hingga kini, masih ada hari-hari di mana ia kesulitan berjalan atau merasakan punggungnya seperti "terbakar".
Kehilangan Identitas dan Pergulatan Kesehatan Mental
Dan menjalani serangkaian tes untuk memastikan tumornya tidak berkaitan dengan faktor genetik. Hasilnya cukup melegakan, tetapi ia tetap harus menghadapi ketidakpastian tentang masa depannya. Bagi pria yang telah menjadi wasit sejak kanak-kanak, pensiun bukan sekadar berhenti dari sebuah pekerjaan.
"Ini kehilangan identitas. Saya sudah menjadi 'Dan si wasit' sejak usia 10 tahun," katanya. "Itu 28 tahun menjadi diri saya sendiri, itu kepribadian saya. Ketika Anda menyadari bahwa hidup seperti itu sudah berakhir, secara psikologis itu benar-benar berat."
Untuk membantu dirinya menentukan langkah selanjutnya, Dan kini bekerja sama dengan seorang psikolog. Dengan nada bercanda, ia mengaku merasa seperti anak 16 tahun yang baru lulus sekolah dan sedang mencari tahu apa yang ingin ia lakukan dengan hidupnya. Ia memiliki beberapa opsi, termasuk tetap berkecimpung di dunia sepak bola, meski ia belum yakin mampu melakukannya mengingat masalah kesehatan mental yang ia alami.
Masa Depan, Keluarga, dan Seruan soal Kesehatan Pria
Salah satu hal yang ia yakini adalah melangkah ke depan bersama keluarganya. Dan ingin mengutamakan anaknya, tunangannya, dan anak tirinya. Selain itu, ia bertekad menjadi penyuara bagi kesehatan mental pria, khususnya agar kaum pria lebih terbuka membicarakan persoalan kesehatan yang mereka hadapi.
"Jika saya bisa membantu satu atau dua pria dalam proses ini, saya sudah menjalankan tugas saya," ujarnya. Ia juga menyadari bahwa jika nanti kembali ke sepak bola, hal itu harus dilakukan untuk alasan yang tepat. "Saya perlu menyalakan kembali api di perut saya," tegasnya.
Kisah Dan Robathan menunjukkan bagaimana puncak karier bisa berubah arah hanya dalam hitungan bulan. Dari berdiri di garis lapangan final FA Cup pada Mei 2025 hingga harus pensiun secara medis sebelum akhir tahun, ia berhadapan dengan kenyataan yang jauh dari bayangannya. Tumor jinak yang awalnya tampak seperti nyeri biasa ternyata membawa dampak besar bagi tubuh dan hidupnya.
Meski harus melepas identitas yang ia bangun selama 28 tahun, Dan memilih untuk melangkah dengan cara lain: mengutamakan keluarga dan menyuarakan pentingnya kesehatan pria. Perjalanannya menjadi cermin bahwa di balik setiap seragam wasit, ada manusia dengan cerita, kerentanan, dan perjuangan yang jarang terlihat di layar kaca.

