Derek McInnes Keluhkan Jeda Internasional Rangers

Derek McInnes terang-terangan mengaku bukan penggemar jeda internasional yang kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Manajer Rangers itu menilai periode kosong kompetisi tersebut terlalu panjang sehingga mengganggu ritme tim asuhannya. Kritik itu ia sampaikan menjelang laga lanjutan Scottish Premiership melawan Kilmarnock di Ibrox.

Keluhan tersebut muncul karena Rangers harus kehilangan 13 pemain yang memperkuat negaranya masing-masing, tepat setelah kemenangan atas Celtic pada 20 September lalu. Akibatnya, skuad lengkap baru bisa berlatih bersama pada Jumat, atau sehari sebelum menjamu Kilmarnock. Artinya, sudah 19 hari berlalu sejak kemenangan derby melawan Celtic, rentang waktu yang menurut McInnes lebih panjang daripada banyak turnamen internasional.

Derek McInnes

Alasan Derek McInnes Menolak Jeda yang Terlalu Panjang

McInnes menjelaskan bahwa para pemainnya tersebar ke berbagai penjuru dunia selama periode jeda. Mereka bergabung dengan federasi yang berbeda, bekerja di bawah staf kepelatihan yang berbeda pula, dan menempuh perjalanan jauh untuk menjalani pertandingan bersama tim nasional. Menurutnya, situasi seperti itu membuat persiapan klub menjadi tidak ideal.

"Pemain kami pergi ke federasi yang berbeda, bekerja dengan staf yang berbeda, dan bepergian ke seluruh dunia untuk memainkan empat pertandingan," ujar McInnes. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut berat bagi para pemain karena harus jauh dari keluarga. Namun, klub juga merasakan kecemasan tersendiri ketika pemainnya berada di tangan negara lain dalam waktu yang lama.

Persoalan waktu menjadi inti keluhan sang manajer. Ia menyebut seluruh pemainnya sudah kembali, tetapi belum semuanya ikut berlatih pada hari yang sama. "Jadi saat kami akhirnya turun ke lapangan bersama besok, sudah 19 hari sejak laga melawan Celtic," katanya. Ia menegaskan bahwa jeda selama itu lebih lama dibandingkan banyak turnamen yang dijalani sejumlah negara, dan meski jadwal tersebut sudah ditetapkan, ia tetap tidak menyukainya.

Latar Belakang: 13 Pemain dan Jeda Setelah Derby

Rangers memasuki masa jeda dengan modal yang cukup meyakinkan. Klub berjuluk The Gers itu menutup periode sebelum jeda dengan enam kemenangan beruntun, dan dua di antaranya diraih atas Celtic, masing-masing di Piala Liga dan Scottish Premiership. Kemenangan di laga derby pada 20 September menjadi titik awal absennya 13 pemain yang dipanggil memperkuat negaranya.

Bagi McInnes, rentetan hasil positif itu terasa penting karena ia sempat melewati awal masa jabatan yang berat di Ibrox, termasuk tersingkir dari kompetisi Eropa. Kebangkitan tersebut membuatnya dinobatkan sebagai manajer terbaik Scottish Premiership untuk bulan September. Pencapaian itu menegaskan bahwa ia mulai menemukan pola yang tepat bagi skuadnya.

Meski demikian, ia menyadari bahwa modal enam kemenangan tersebut tidak otomatis menjamin apa pun. McInnes menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki ilusi soal tuntutan yang ada. Performa bagus itu dinilainya wajib berlanjut, terutama karena jadwal kompetisi berjalan panjang dan persaingan di liga tidak memberi ruang untuk berpuas diri.

Dampak Jeda bagi Persiapan Melawan Kilmarnock

Konsekuensi paling langsung dari jeda panjang ini terlihat pada persiapan jelang laga kontra Kilmarnock. McInnes mengungkapkan bahwa skuad lengkapnya baru bisa berlatih bersama pada Jumat, tepat sehari sebelum pertandingan digelar. Dengan waktu sesingkat itu, ia hanya punya sedikit kesempatan untuk mengasah kerja sama antarpemain dan menyiapkan skema khusus menghadapi lawan.

Hal ini berbeda dari kondisi normal, ketika para pemain bisa berlatih bersama klub selama beberapa hari sebelum laga. Pemain yang kembali dari tugas negara biasanya juga harus melewati proses pemulihan setelah menempuh perjalanan jauh dan menjalani pertandingan berturut-turut. Kombinasi keduanya membuat klub harus cermat mengelola beban kerja, terutama untuk pemain yang menempuh jarak penerbangan paling panjang.

Risiko kebugaran dan cedera pun menjadi perhatian tersendiri. McInnes menyebut bahwa berada di tangan negara lain selama periode panjang membuat klub tidak bisa sepenuhnya mengontrol kondisi pemainnya. Bagi Rangers, hal tersebut menjadi taruhan karena mereka ingin menjaga momentum kemenangan yang sudah dibangun sebelum jeda.

Makan Siang dengan Sir Alex Ferguson

Di tengah kekesalannya soal jeda, McInnes membagikan cerita lain, yakni pertemuan dengan Sir Alex Ferguson. Mantan manajer Manchester United itu menyambangi pusat latihan klub dan menghabiskan waktu bersama staf serta sang pelatih. McInnes menyebutnya sebagai kesempatan yang menyenangkan, terlebih mengingat kondisi kesehatan Ferguson beberapa waktu sebelumnya.

"Dia menghabiskan waktu dengan para staf dan saya, mengobrol santai seperti biasanya," kata McInnes. Ia menuturkan bahwa Ferguson selalu memberikan dukungan, dan ia yakin hal itu juga ia lakukan kepada banyak manajer lain. Menurutnya, sudah ada beberapa percakapan antara dirinya dan Ferguson sejak ia menangani Rangers, tetapi bertemu langsung tetap memberi kesan berbeda.

Kedekatan keduanya terbangun sejak McInnes masih menangani Hearts. Ferguson menjadi tamu rutin di Tynecastle pada musim lalu, ketika McInnes membawa Hearts melakukan perlawanan tak terduga dalam perebutan gelar. Ferguson, menurut McInnes, memahami peluang yang terbuka untuk pindah ke Ibrox dan keduanya sempat membicarakannya panjang lebar.

Nasihat yang tertinggal paling membekas adalah soal cara menilai sebuah musim. Ferguson berbagi pengalaman tentang awal yang sulit di Manchester United dan menekankan bahwa yang menentukan adalah bagaimana sebuah kampanye diakhiri, bukan bagaimana kampanye itu dimulai. Menurut McInnes, Ferguson juga menilai penampilan Rangers sangat kuat, khususnya saat bermain di Celtic Park.

Konteks Lebih Luas dan Langkah Selanjutnya

Jadwal jeda internasional memang disusun oleh federasi dan biasanya sudah ditetapkan jauh hari, sehingga klub hampir tidak punya ruang untuk menolak. Keluhan seperti yang disampaikan McInnes bukan hal langka di sepak bola, terutama pada musim yang kalendernya padat. Pelatih di berbagai liga kerap menyoroti betapa singkatnya waktu yang mereka miliki untuk menyiapkan tim setelah pemain pulang dari tugas negara.

Yang bisa dilakukan klub adalah mengelola kondisi pemain sebaik mungkin setelah mereka kembali. Sejumlah pemain biasanya baru bergabung satu atau dua hari sebelum laga, sehingga staf pelatih harus menyesuaikan porsi latihan, menerapkan rotasi, dan menimbang kesiapan fisik masing-masing pemain. Keputusan semacam ini jadi penentu pada laga pertama setelah jeda, ketika tim sering tampil kurang padu.

Bagi Rangers, ujian sesungguhnya justru dimulai sekarang. Rentetan enam kemenangan yang mereka raih sebelum jeda harus dibuktikan keberlanjutannya di lapangan, dimulai dari laga melawan Kilmarnock. Jika berhasil melewatinya dengan baik, kritik McInnes soal jeda akan terdengar sebagai kekecewaan yang sia-sia, bukan hambatan yang nyata.

Pernyataan Derek McInnes ini pada akhirnya menggambarkan dua sisi yang sulit dipisahkan dalam sepak bola modern: kebanggaan ketika pemain membela negaranya, dan kekhawatiran klub yang harus menerima konsekuensi jadwalnya. Ia tidak menolak pemanggilan pemain ke tim nasional, melainkan mempersoalkan durasi jeda yang menurutnya kelewat panjang. Sambil menunggu hasil di lapangan, keluhan itu menjadi pengingat bahwa kalender kompetisi tetap jadi persoalan rumit bagi pelatih mana pun.