Pelatih Gian Piero Gasperini menegaskan bahwa Gasperini Roma bertekad melanjutkan performa terbaik mereka di Serie A begitu kompetisi kembali bergulir usai jeda internasional. Ia ingin timnya memulai lagi tepat dari titik ketika mereka berhenti, merujuk pada rentetan hasil positif yang diraih Roma sebelum liga dihentikan sementara. Pernyataan itu ia sampaikan kepada Sky Sport Italia menjelang dimulainya kembali pertandingan-pertandingan domestik.
Roma tampil mengejutkan pada awal musim 2026-27 dan kini menempati puncak klasemen Serie A. Mereka berada di atas juara bertahan Inter Milan berkat selisih gol yang lebih baik. Posisi tersebut menjadi semakin istimewa karena untuk pertama kalinya sejak musim 2014-15, Roma melewati lima laga pembuka liga tanpa menelan kekalahan sama sekali.

Roma Puncaki Klasemen dengan Modal Awal Musim Solid
Pencapaian Roma pada musim 2014-15 menjadi pembanding yang menarik, sebab saat itu mereka bahkan menyapu lima pertandingan pembuka dengan kemenangan. Kini Roma mengulang catatan tak terkalahkan itu, meski dengan komposisi hasil yang berbeda. Capaian tersebut menempatkan mereka di posisi teratas klasemen, di atas Inter yang berstatus juara bertahan.
Dari sisi produktivitas, Roma menjadi tim kedua tersubur di Serie A dengan koleksi 14 gol, hanya kalah dari Inter yang mencetak 15 gol. Sementara itu, lini belakang mereka termasuk yang paling rapat karena baru kebobolan tiga kali, jumlah yang hanya lebih banyak dari Cagliari yang baru kemasukan dua gol. Kombinasi serangan tajam dan pertahanan disiplin inilah yang membuat Roma betah di puncak.
Meski demikian, Gasperini masih enggan memasukkan timnya ke dalam pembicaraan perebutan gelar Serie A. Keraguan itu cukup masuk akal mengingat kompetisi masih sangat panjang dan Roma baru menjalani lima pertandingan. Namun, penampilan mereka sebelum jeda internasional memang terbilang mengesankan.
Gasperini Roma dan Fondasi Kebangkitan di Awal Musim
Selama jeda internasional, Roma tidak bisa menggelar laga uji coba karena jumlah pemain yang tersedia sangat terbatas. Gasperini mengaku memilih melanjutkan program latihan yang sudah dijalankan pada pekan pertama, lalu memberikan beberapa hari libur kepada para pemain. Menurutnya, keputusan itu diambil demi menjaga kesinambungan kerja yang sudah berjalan.
Ia menyebut Senin sebagai hari terakhir libur, dan setelah itu seluruh tim akan kembali ke mentalitas liga yang sempat mereka tinggalkan di tengah periode hasil serta performa yang bagus. Gasperini menegaskan keinginannya agar Roma memulai lagi persis di titik mereka berhenti. Kalimat itu menjadi gambaran jelas soal ambisi sang pelatih untuk menjaga momentum yang sudah susah payah dibangun.
Menurut Gasperini, ada banyak faktor kecil yang membentuk kesuksesan awal ini, dimulai dari skuad yang langsung menyatakan kesediaan bekerja sejak sesi latihan pertama. Tim memang sudah menutup musim sebelumnya dengan baik, tetapi para pemain segera menunjukkan keinginan untuk mengeksplorasi jalur dan gaya sepak bola yang berbeda. Ia juga menyebut kepercayaan dari klub sebagai salah satu penopang terpenting di balik perkembangan tersebut.
Gasperini mengakui bahwa ia awalnya datang ke Roma sebagai sosok yang dipandang sebagai lawan dan rival, bahkan sempat menuai keraguan. Karena itu, ia menganggap penerimaan yang akhirnya datang dari para pendukung Roma sebagai sebuah pencapaian besar bagi dirinya. Ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya secara terbuka atas dukungan tersebut.
Implikasi bagi Peta Persaingan Gelar Serie A
Konsistensi Roma pada lima laga pembuka memberi sinyal bahwa mereka bisa menjadi pengganggu dominasi tim-tim besar. Dengan 14 gol dan hanya tiga kali kebobolan, Roma menunjukkan keseimbangan yang biasanya dimiliki tim yang bersaing di papan atas klasemen. Jika tren ini bertahan, persaingan di papan atas Serie A berpotensi berjalan lebih ketat daripada perkiraan banyak orang.
Meski begitu, Gasperini tetap menempatkan Inter sebagai tim terkuat dari sisi kedalaman skuad maupun hasil yang mereka raih. Ia menilai Como juga punya kemampuan untuk bertarung di papan atas bersama tim-tim lain. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Gasperini tidak ingin timnya terlena oleh start yang gemilang.
Menuju Kemenangan ke-300 dan Ujian Melawan Como
Gasperini kini mengoleksi 299 kemenangan sebagai pelatih di Serie A dan berada di ambang pencapaian ke-300. Sejauh ini baru empat pelatih yang pernah mencapai milestone tersebut di kompetisi ini, yakni Giovanni Trapattoni (352), Massimiliano Allegri (324), Luciano Spalletti (305), dan Nereo Rocco (302). Catatan itu menempatkan Gasperini di ambang pintu sejarah yang hanya diisi nama-nama besar.
Peluang menorehkan kemenangan ke-300 terbuka saat Roma kembali berlaga pada 11 Oktober melawan Como. Klub asuhan Cesc Fabregas itu sedang dalam performa bagus karena hanya kalah sekali dari lima laga liga, dengan catatan tiga kemenangan dan satu hasil imbang. Duel tersebut jelas bukan pertandingan yang bisa dianggap mudah bagi Roma.
Gasperini memuji perkembangan Como dan menilai siapa pun yang menonton sepak bola akan menghargai kualitas pemain serta kualitas pertandingan yang mereka mainkan. Ia juga mengungkapkan pernah membaca pernyataan Fabregas yang menggunakan Subbuteo untuk menjelaskan cara menyerang dengan kedalaman. Dengan nada bercanda, Gasperini mengaku justru harus memakai cara serupa untuk memikirkan bagaimana menghentikan serangan Como.
Kembalinya Jose Mourinho ke Stadio Olimpico
Gasperini juga tengah bersiap menyambut kembalinya mantan pelatih Roma, Jose Mourinho, yang akan membawa Real Madrid ke Stadio Olimpico pada laga Liga Champions pekan depan. Mourinho pernah mengantar Roma menjuarai edisi perdana Conference League pada Mei 2022 setelah mengalahkan Feyenoord 1-0 di partai final. Kembalinya ia ke ibukota Italia tentu menjadi momen yang menyita perhatian banyak pihak.
Gasperini menyebut Mourinho, dengan tepat, sebagai sosok yang istimewa dan mampu meraih kesuksesan baik di dalam maupun di luar lapangan. Ia mengingatkan bahwa Mourinho membawa Roma menjuarai Conference League sekaligus mencapai final Liga Europa. Menurut Gasperini, meski capaian Mourinho di kompetisi liga mungkin sedikit berkurang, sebagian besar pendukung Roma tetap menghargainya, dan itu membuktikan bahwa ia memiliki sesuatu yang istimewa.
Kesimpulan
Awal musim 2026-27 menjadi salah satu periode terbaik Roma dalam lebih dari satu dekade, dengan lima laga pembuka tanpa kekalahan, 14 gol, dan hanya tiga kali kebobolan. Gasperini tidak ingin momentum itu hilang, sehingga ia menyiapkan timnya untuk kembali ke mentalitas liga begitu jeda internasional berakhir. Dua laga berikutnya, melawan Como di Serie A dan menjamu Real Madrid di Liga Champions, akan menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi Roma.
Bagi Gasperini secara pribadi, momen ini juga berpotensi menjadi tonggak sejarah lewat kemenangan ke-300 di Serie A, sebuah pencapaian yang baru diraih empat pelatih lain sepanjang sejarah kompetisi. Namun di atas segalanya, ia tampak lebih fokus pada keberlanjutan performa tim yang telah dibangunnya bersama para pemain dan para pendukung. Jika Roma benar-benar mampu memulai lagi tepat dari titik mereka berhenti, persaingan gelar Serie A musim ini bisa berjalan jauh lebih menarik.

