Sejumlah pesepakbola Premier League dan mantan pemain yang pernah meraih trofi bergengsi di Eropa kini resmi berstatus lulusan PFA Business School angkatan 2026. Upacara kelulusannya digelar di Stadion Emirates, markas Arsenal, dengan suasana yang nyaris menyerupai wisuda kampus ternama: para peserta mengenakan toga dan topi wisuda. Di antara mereka ada gelandang Everton Kiernan Dewsbury-Hall serta penyerang Coventry City Taiwo Awoniyi, bersama sejumlah nama yang sudah dikenal luas di sepak bola Inggris.
Program ini penting karena menawarkan jalur lain bagi pemain yang masih aktif: menyiapkan bekal untuk berkarier di balik layar, misalnya sebagai sporting director, pelatih, atau eksekutif klub. Alih-alih menunggu masa pensiun tiba, mereka belajar sambil tetap menjalani jadwal latihan dan pertandingan. Kursus yang ditempuh pun dirancang agar bisa berjalan beriringan dengan karier profesional, sehingga tidak menuntut pemain meninggalkan lapangan lebih dulu.

Dari Toga Wisuda hingga Trofi: Siapa Saja Pesepakbola Premier League yang Lulus
Seremoni itu memang mirip upacara kelulusan di Oxbridge, tetapi orang-orang bertoga yang hadir bukan mahasiswa biasa. Mereka adalah pesepakbola Premier League dan mantan pemain yang telah memenangi kejuaraan besar di Eropa maupun di berbagai belahan dunia. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Cesar Azpilicueta, bek yang pensiun pada akhir musim lalu setelah memperkuat Atletico Madrid dan Sevilla.
Dalam acara tersebut, Azpilicueta berbagi cerita kepada para lulusan tentang bagaimana belajar pada pagi hari menjelang final Liga Champions 2021 justru membantunya mengalihkan pikiran dari tekanan pertandingan. Saat itu ia menakhodai Chelsea dan membawa timnya menang 1-0 atas Manchester City di Porto. Kisah itu menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa berfungsi sebagai penopang mental, bukan sekadar bekal setelah pensiun.
Dewsbury-Hall sendiri harus menempuh perjalanan kereta dari Merseyside ke London demi menghadiri upacara itu. Meski tengah berada dalam performa terbaik sepanjang kariernya bersama Everton, ia memilih tetap hadir karena telah menuntaskan diploma pascasarjana di bidang global football sport directorship. Kehadirannya menunjukkan komitmen terhadap proses belajar yang sudah ia jalani sejak lama.
Alasan Dewsbury-Hall Kuliah di Tengah Performa Terbaik
Mantan pemain Leicester City dan Chelsea itu mengaku tidak ingin berhenti belajar hanya karena karier bermainnya sedang berjalan mulus. Ia menjelaskan kepada BBC Sport bahwa ia masih berharap memiliki waktu panjang di sepak bola, tetapi sebagai pribadi ia selalu berusaha berkembang di luar lapangan. Ia juga tidak membayangkan diri hanya duduk tanpa kegiatan begitu karier bermainnya berakhir.
"Ini sesuatu yang benar-benar menarik bagi saya. Apakah nanti saya gunakan, kita lihat saja, tapi selalu lebih baik melakukannya sekarang daripada menunggu sampai selesai bermain," ujarnya. Ia menambahkan, jika suatu saat ada peluang datang, ia sudah memiliki bekal yang bisa membantunya. Pernyataan itu menegaskan bahwa keputusannya menempuh studi lahir dari ketertarikan pribadi, bukan keterpaksaan.
Dewsbury-Hall juga menyinggung stereotip yang sering melekat pada pesepakbola. Menurutnya, di setiap industri selalu ada orang cerdas dan ada pula yang kurang cerdas, sehingga jumlah orang pintar di dunia sepak bola sebenarnya lebih banyak dari dugaan banyak orang. Sebagian pemain mungkin memang tidak tertarik pada hal seperti ini, tetapi bukan berarti mereka tidak mampu melakukannya.
Di sela acara, ia menyempatkan diri menemui mantan gelandang Everton, Tim Cahill, yang kini berkarier di sepak bola Qatar, untuk berdiskusi soal seni mencetak gol. Ia mengaku tidak sedang mengklaim pendidikan sebagai gairah utamanya, namun ia ingin membuktikan bahwa pesepakbola bisa menuntaskan kursus semacam ini sambil tetap bermain. Menurutnya, tidak ada yang tahu ke mana jalan itu akan membawanya.
Taiwo Awoniyi dan Janji Kuliah kepada Sang Ayah
Lulusan lain, Taiwo Awoniyi, datang ke acara itu bersama sejumlah anggota keluarganya. Penyerang berusia 29 tahun tersebut bergabung dengan Coventry City dari Nottingham Forest pada musim panas ini dan tetap menjadi bagian skuad Nigeria yang berjuang lolos ke Piala Afrika 2027. Sepanjang karier bermainnya, ia konsisten melanjutkan pendidikan.
"Saya sudah punya gelar manajemen bisnis dan satu diploma lagi, jadi ini kualifikasi ketiga saya," katanya. Ayahnya, Solomon, sebelumnya pernah berbicara tentang pendekatannya yang tegas soal pendidikan, yang pada beberapa titik hampir menghalangi sang anak menekuni sepak bola. Perjalanannya pun tidak singkat: dari Imperial Soccer Academy, kemudian Liverpool, hingga namanya dikenal di sepak bola Jerman bersama Union Berlin.
Awoniyi, yang lahir di Ilorin, Nigeria, menyebut dirinya sebagai "pemimpi yang pendiam". Ia menganggap pendidikan selalu penting dan telah berjanji kepada ayahnya bahwa jika ia bermain sepak bola, ia akan terus belajar. Janji itulah yang menurutnya telah ia tunaikan, dan ia bangga karenanya.
Pengalamannya sebagai pesepakbola juga penuh pasang-surut. Pada Mei 2025, ia mengalami cedera serius saat memperkuat Nottingham Forest melawan Leicester City: ususnya pecah akibat bertabrakan dengan tiang gawang dan ia sempat ditempatkan dalam kondisi koma yang diinduksi secara medis. Baginya, kejadian itu menjadi pengingat bahwa ada banyak hal yang lebih besar dari sepak bola, sehingga terus memperbaiki diri terasa penting.
Kursus Dirancang agar Selaras dengan Jadwal Pertandingan
Program PFA Business School memang disusun untuk berjalan berdampingan dengan karier bermain. Jadwal seminar diatur sedemikian rupa agar bentrok dengan pertandingan dan sesi latihan bisa ditekan seminimal mungkin. Pemain juga diberi keleluasaan untuk belajar kapan saja sesuai waktu luang mereka.
Meski begitu, menempuh pendidikan tetap menuntut kedisiplinan ekstra. Awoniyi menyebut pekerjaan pesepakbola bukanlah pekerjaan kantoran dari pukul sembilan pagi sampai lima sore, sehingga waktu malam sebenarnya masih tersedia. Menurutnya, meski menantang, semua bergantung pada seberapa besar kemauan pemain untuk meluangkan waktu.
Dewsbury-Hall bahkan mengaku pernah mendapat "pandangan aneh" dari orang lain ketika belajar lewat iPad selama perjalanan pulang dari laga tandang. Itu menunjukkan bahwa kebiasaan belajar di sela rutinitas pertandingan masih terasa tidak biasa bagi banyak orang. Namun, bagi sebagian pemain, justru momen-momen kecil seperti itulah yang membuat proses belajar tetap berjalan.
Setiap Lulusan Punya Cerita yang Berbeda
Bagi bek Wycombe Wanderers, Steve Cook, kursus ini menjadi pengalaman pertamanya kembali ke pendidikan formal sejak masa sekolah. Pria yang pernah menakhodai Bournemouth di Premier League itu sudah mengantongi lisensi kepelatihan dan menyadari bahwa karier bermainnya mendekati ujung. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan setiap pemain terhadap pendidikan bisa sangat berbeda satu sama lain.
Sebagian lulusan mungkin tidak langsung memakai keahlian baru mereka selama bertahun-tahun ke depan. Meski demikian, Azpilicueta menilai semua peserta tetap akan merasakan manfaatnya dalam bentuk tertentu. Baginya, kursus itu bukan hanya soal menyiapkan hidup setelah pensiun, tetapi juga soal menjadi versi diri yang lebih baik selama karier bermain masih berjalan.
Azpilicueta: Pendidikan Membantu Fokus dan Kepemimpinan
Azpilicueta bukan nama baru dalam urusan pendidikan. Ia menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama klub kampung halamannya, Osasuna, pada usia 17 tahun, setelah sebelumnya terus bersekolah. Ketika menjadi pemain profesional, ia sempat meninggalkan kuliahnya, tetapi kemudian kembali menuntaskan gelar MBA di Harvard University, Amerika Serikat, selama sembilan tahun membela Chelsea.
Keinginannya untuk tetap belajar bahkan muncul tepat sebelum laga terbesar dalam karier klubnya. Menjelang final Liga Champions 2021, ia biasanya tidur siang setelah makan siang jika pertandingan digelar malam, tetapi hari itu hal tersebut mustahil karena suara penggemar sudah terdengar dan atmosfer laga besar begitu terasa. Menurutnya, kegiatan belajar membantu menjaga fokus dan membuatnya terus berkembang di luar sepak bola.
Setelah menutup karier bermain di Atletico Madrid dan Sevilla, Azpilicueta menyatakan tidak akan terburu-buru mengambil peran berikutnya. Kursus PFA sendiri menghadirkan sejumlah tokoh penting sebagai pengajar, salah satunya chief executive Brighton, Paul Barber, agar peserta memahami cara kerja berbagai bagian industri sepak bola.
Dampaknya bagi Karier Pemain dan Industri Sepak Bola
Kehadiran para pemain di bangku kuliah menunjukkan pergeseran bertahap dalam cara pesepakbola memandang karier mereka. Sepak bola menuntut performa pada usia yang relatif muda, sementara masa setelah pensiun bisa berlangsung puluhan tahun. Memiliki bekal manajerial, bisnis, atau kepelatihan jauh sebelum masa itu tiba memberi ruang lebih lebar untuk memilih peran berikutnya.
Bagi industri, munculnya kandidat sporting director dan eksekutif dari kalangan mantan pemain bisa memperkuat jembatan antara ruang ganti dan ruang rapat. Pemain memahami dinamika internal klub, ritme satu musim, serta tekanan kompetisi dengan cara yang sulit dipahami orang luar. Dengan tambahan pendidikan formal, kombinasi itu berpotensi membuat kebijakan klub lebih mudah diterima para pemain.
Namun, hasilnya tentu tidak bisa dinilai dalam waktu singkat. Sebagian lulusan masih akan fokus bermain bertahun-tahun ke depan, dan sebagian lain mungkin memilih jalur yang sama sekali berbeda. Yang jelas, angkatan kelulusan kali ini menyimpan calon pelatih, eksekutif, dan sporting director yang bisa memberi warna baru bagi sepak bola di masa mendatang.
Pada akhirnya, kisah para lulusan PFA Business School ini menunjukkan bahwa belajar sambil bermain bukan hal yang mustahil. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk menyisihkan waktu dan keberanian untuk tampil berbeda dari kebiasaan umum di dunia sepak bola. Jika tren ini berlanjut, wajah ruang direksi klub-klub besar bisa jadi akan semakin akrab dengan nama-nama yang pernah menghiasi lapangan.

