Manchester City Pimpin Penentangan terhadap Proposal Premier League Rp30 Triliun untuk EFL

Manchester City Guncang Premier League dengan Sikap Kontra terhadap Paket Dana EFL

Manchester City muncul sebagai pihak paling vokal yang menentang rencana Premier League untuk memberikan paket dana sebesar £1,5 miliar (sekitar Rp30 triliun) kepada English Football League (EFL). Proposal bersejarah ini dijadwalkan akan dibahas dalam pertemuan 20 klub Premier League pada hari Kamis.

Premier League berharap dapat segera memvote proposal yang akan dicicil selama 10 tahun itu sebelum musim baru dimulai. Namun, City dikabarkan telah menyusun penentangan Manchester City dengan mengajukan tandingan (counterproposal) karena khawatir terhadap mekanisme pendanaan paket tersebut.

Manchester City

Akar Permasalahan: Kekhawatiran Soal Biaya dan Beban Klub Besar

Kekhawatiran City terhadap proposal ini tidak sepenuhnya sendirian. Beberapa anggota "big six" lainnya juga memiliki keraguan serupa, terutama karena mereka akan diminta membayar lebih banyak dibanding klub Premier League lain dalam skema "New Deal for Football". Meski demikian, belum jelas berapa banyak klub yang siap mendukung oposisi yang digagas City.

Langkah City ini muncul di tengah situasi rumit mereka dengan Premier League. Klub asuhan Pep Guardiola masih menunggu putusan pengadilan independen terkait 115 tuduhan pelanggaran aturan finansial (FFP). Meski tahun lalu mereka menyelesaikan sengketa hukum dengan Premier League soal aturan transaksi pihak terkait (APT), ketegangan tetap tinggi.

The Guardian melaporkan bahwa City sempat membuat beberapa klub lain jengkel karena mengajukan amandemen mendadak terhadap perubahan aturan yang diusulkan dalam rapat umum tahunan Premier League Juni lalu. Amandemen tersebut ditolak dengan suara 19-1, menunjukkan isolasi City di antara klub-klub lain.

Detail Proposal: Transfer Fee Levy Naik, Klub Besar Terbebani

Salah satu pemicu utama penentangan Manchester City adalah usulan Premier League untuk menaikkan pungutan biaya transfer (transfer levy) dari 4% menjadi 6%. Kenaikan ini jelas akan memberatkan klub-klub dengan belanja pemain tinggi seperti City, Chelsea, dan Manchester United.

Premier League hanya akan melakukan voting pada hari Kamis jika yakin mampu mengumpulkan 14 suara dukungan (mayoritas dua pertiga). Sumber menyebut pihak eksekutif Premier League cukup optimis, meskipun menghadapi oposisi tertentu.

Rata-rata kontribusi yang diusulkan Premier League sekitar £150 juta per tahun. Angka ini hampir tidak berubah sejak tawaran serupa £750 juta selama lima tahun diajukan pada September 2023. Bedanya, durasi kesepakatan saat ini digandakan menjadi 10 tahun.

Skema Pembayaran dan Alokasi ke Divisi Bawah

Jika disetujui klub dan diterima EFL, pembayaran awal £100 juta akan cair pada musim ini. Selanjutnya, kontribusi tahunan akan meningkat hingga musim 2035-2036.

Alokasi dana tersebut rencananya: 80% untuk Championship, 12% untuk League One, dan 8% untuk League Two. Namun, belum jelas apakah EFL akan menerima tawaran pertama ini. Ketua EFL, Rick Parry, dikabarkan masih mengincar kesepakatan yang lebih besar.

Kesimpulan: Pertarungan Belum Berakhir

Penentangan Manchester City terhadap paket dana Premier League untuk EFL mencerminkan ketegangan antara klub-klub besar dan liga dalam urusan finansial. Dengan City yang tengah dalam pusaran kasus FFP dan hubungan yang renggang dengan klub lain, sikap mereka bisa mempengaruhi hasil voting. Sementara itu, EFL menunggu dengan harapan dapat memperoleh dana lebih besar. Keputusan akhir akan sangat menentukan masa depan distribusi kekayaan sepak bola Inggris.