Pelatih Bayer Leverkusen, Carles Martinez, menegaskan bahwa fokusnya tidak akan terganggu oleh pergantian pelatih di kubu lawan menjelang duel Leverkusen vs Celje di ajang Europa League. Celje resmi menunjuk Zoran Zeljkovic sebagai pelatih baru pada Selasa, tak lama setelah memutuskan berpisah dengan Vitor Campelos. Bagi Martinez, dinamika di tim lawan bukan hal yang perlu dipusingkan berlebihan, karena prioritas utamanya tetap performa skuad asuhannya sendiri.
Laga ini punya arti tersendiri bagi Leverkusen. Ini akan menjadi pertandingan Europa League pertama mereka sejak kalah dari Atalanta di final musim 2023-24 yang berlangsung di Dublin. Dengan modal sejarah panjang di kompetisi ini dan ambisi kembali melaju jauh, Leverkusen dituntut tampil meyakinkan, terlebih setelah melewati awal musim yang belum sepenuhnya stabil di Bundesliga.

Leverkusen vs Celje: Martinez Pilih Fokus ke Tim Sendiri
Pergantian pelatih di Celje sebenarnya menjadi situasi yang cukup merepotkan bagi tim mana pun. Ketika sebuah klub berganti arsitek di tengah kompetisi, pola permainan mereka bisa berubah cukup drastis dalam waktu singkat. Namun Martinez memilih untuk tidak menjadikan hal itu sebagai alasan, karena ia menilai persiapan internal Leverkusen jauh lebih menentukan hasil akhir pertandingan.
Ia mengaku timnya sudah meneliti calon lawan dengan saksama, sama seperti yang mereka lakukan terhadap setiap lawan. Menurut Martinez, Celje adalah tim yang berkualitas, bahkan hampir saja lolos ke Liga Champions. Karena itu, ia menegaskan bahwa Leverkusen tetap menaruh rasa hormat yang besar terhadap lawan, terlepas dari siapa yang duduk di bangku pelatih Celje saat kick-off nanti.
Meski begitu, Martinez jujur mengakui ada sejumlah tanda tanya yang belum bisa dijawab sebelum pertandingan berjalan. Ia menyebut pihaknya belum tahu pasti pendekatan apa yang akan dipakai Celje di bawah pelatih anyar. Apakah mereka akan bertahan dalam atau menekan tinggi, apakah akan berupaya menguasai bola, serta apakah akan memakai empat atau lima pemain di lini belakang, semuanya masih menjadi spekulasi. Oleh sebab itu, ia menegaskan Leverkusen terutama akan berkonsentrasi pada diri mereka sendiri.
Start Naik-Turun Leverkusen di Bundesliga
Perhatian Martinez terhadap kondisi timnya sendiri sangat beralasan. Leverkusen memulai musim ini dengan catatan hasil yang belum konsisten. Pada laga pembuka Bundesliga, mereka menelan kekalahan dari tim promosi Elversberg, hasil yang jelas mengecewakan bagi tim dengan target tinggi seperti mereka.
Setelah itu, performa Leverkusen justru melonjak. Mereka menghancurkan Union Berlin dengan skor 4-0, sebuah hasil yang menunjukkan potensi serangan mereka ketika semua komponen berjalan selaras. Sayangnya, konsistensi itu belum benar-benar terjaga, karena pada pertandingan berikutnya mereka hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Augsburg. Kombinasi hasil inilah yang membuat laga kontra Celje menjadi momen penting untuk kembali menemukan ritme permainan.
Pola naik-turun semacam ini biasanya menjadi sinyal bahwa tim masih dalam proses pencarian bentuk terbaik. Bagi Leverkusen, jadwal Eropa yang berjalan beriringan dengan kompetisi domestik menuntut kestabilan lebih cepat. Kekalahan dari Elversberg dan hasil imbang dengan Augsburg memperlihatkan bahwa mereka masih rentan kehilangan poin ketika tidak mendominasi pertandingan.
Modal Rekor Eropa Leverkusen dan Catatan Kontra Klub Slovenia
Terlepas dari masalah konsistensi domestik, Leverkusen punya alasan untuk percaya diri di Europa League. Dari 16 pertandingan fase grup terakhir mereka di kompetisi ini, Leverkusen menang 14 kali, dengan hanya satu hasil imbang dan satu kekalahan. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa format fase grup sejauh ini menjadi wilayah yang sangat nyaman bagi mereka.
Rekor kandang mereka bahkan lebih menakutkan lagi. Leverkusen memenangi sembilan laga kandang terakhir di fase grup sambil mencetak 37 gol. Angka itu menggambarkan dua hal sekaligus: lini serang yang tajam dan kemampuan memanfaatkan dukungan publik sendiri. Menghadapi Celje di kandang, Leverkusen jelas berambisi melanjutkan tren tersebut.
Sejarah pertemuan dengan tim Slovenia juga berpihak kepada Leverkusen. Dua pertemuan Eropa mereka dengan klub Slovenia terjadi pada Liga Champions 1999-00 melawan Maribor, dengan hasil menang 2-0 di laga tandang dan imbang 0-0 di Jerman. Secara lebih luas, dari 11 pertemuan besar di Eropa antara klub Jerman dan Slovenia, tim Jerman hanya kalah satu kali, dengan catatan enam kemenangan dan empat hasil imbang. Satu-satunya kekalahan itu terjadi pada September 2005, ketika Domzale menang 1-0 atas Stuttgart di ajang UEFA Cup.
Mengenal Celje dan Tantangan Pelatih Baru
Celje bukan tim yang bisa dianggap enteng, kendati bukan nama besar di peta sepak bola Eropa. Musim ini menjadi musim Eropa utama keempat bagi mereka. Sebelumnya, mereka tersingkir di putaran pertama UEFA Cup 2003-04, lalu tampil di Conference League pada 2024-25 dengan capaian babak perempat final, dan kembali berlaga di Conference League 2025-26 hingga menembus babak 16 besar.
Catatan itu memperlihatkan bahwa Celje memiliki pengalaman kompetisi antarklub Eropa yang tidak bisa diremehkan. Mereka pernah melewati fase gugur dan menghadapi lawan-lawan berkualitas. Martinez sendiri mengakui bahwa lawannya kali ini hampir saja meraih tiket ke Liga Champions, yang berarti kualitas skuad mereka berada di level kompetitif.
Namun, kehadiran Zeljkovic sebagai pelatih baru menciptakan ketidakpastian yang bisa bekerja dua arah. Di satu sisi, Leverkusen belum memiliki gambaran utuh tentang taktik yang akan diterapkan Celje. Di sisi lain, para pemain Celje juga harus beradaptasi cepat dengan ide-ide baru sang pelatih, dan waktu yang tersedia sangat singkat sebelum laga bergengsi ini digelar.
Apa Artinya bagi Leverkusen dan Peta Persaingan
Bagi Leverkusen, hasil di laga ini bukan sekadar soal tiga poin. Laga pembuka biasanya menentukan nada sebuah kampanye Eropa, dan memulai dengan kemenangan akan memberi kepercayaan diri tambahan bagi tim yang sedang mencari stabilitas. Sebaliknya, inkonsistensi akan semakin terasa jika mereka kembali tergelincir di kompetisi kedua setelah Bundesliga.
Pergantian pelatih di tengah musim sendiri merupakan fenomena yang cukup umum di sepak bola Eropa, terutama bagi klub-klub yang ingin mengubah arah setelah hasil buruk. Efeknya sering kali bersifat sementara, kadang memicu lonjakan performa, tetapi bisa juga menimbulkan ketidakstabilan. Dalam konteks ini, keputusan Celje menunjuk Zeljkovic menandakan ambisi mereka untuk tampil kompetitif di panggung Eropa tanpa harus mengorbankan sisa musim domestik.
Dari perspektif Leverkusen, pendekatan Martinez yang enggan membaca terlalu jauh apa yang akan dilakukan lawan adalah strategi yang masuk akal. Dengan kekuatan skuad dan rekornya di Eropa, Leverkusen lebih baik mengandalkan kualitas sendiri daripada menebak-nebak skema tim yang baru berganti pelatih. Yang dibutuhkan adalah disiplin taktik, efektivitas penyelesaian akhir, dan kemampuan menjaga momentum selama 90 menit.
Kesimpulan
Leverkusen vs Celje akan menjadi pertandingan yang menarik untuk disimak karena mempertemukan tim yang ingin membuktikan kestabilannya dengan klub yang baru saja mengubah arah di bangku pelatih. Carles Martinez memilih bersikap tenang dan mengarahkan seluruh perhatian pada kesiapan timnya, bukan pada tanda tanya di kubu lawan. Modal rekor Eropa Leverkusen, termasuk 14 kemenangan dari 16 laga fase grup terakhir dan sembilan kemenangan kandang beruntun, menjadi bekal berharga untuk memulai perjalanan mereka.
Di sisi lain, Celje datang dengan cerita yang tidak bisa diremehkan: pengalaman di fase gugur Conference League dan kedekatan mereka dengan kualifikasi Liga Champions. Semua itu membuat laga ini bukan sekadar formalitas bagi Leverkusen, melainkan ujian pertama yang sesungguhnya di Europa League musim ini.

