Cesc Fabregas menolak keras perbandingan yang menyamakan dirinya dengan legenda sepak bola Johan Cruyff. Pelatih Fabregas di Como itu menegaskan bahwa jaraknya masih terlalu jauh dari banyak nama besar lain, apalagi dibandingkan dengan sosok asal Belanda tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah performa impresif Como pada awal musim Serie A. Fabregas membawa timnya mengumpulkan 10 poin dari empat pertandingan pertama, sebuah capaian yang menempatkan Como di posisi ketiga klasemen menjelang pertandingan kelima melawan Frosinone. Pencapaian tersebut membuat sebagian pengamat mulai menyandingkan namanya dengan Cruyff, khususnya karena pengaruh besar yang ia berikan—seperti yang dulu dilakukan Cruyff di Barcelona.

Fabregas Merasa Belum Selevel Cruyff
Ketika ditanya soal perbandingan itu, Fabregas menjawab dengan tegas bahwa dirinya belum berada di level yang pantas dibandingkan dengan pelatih-pelatih top dunia. Ia menyebut masih banyak juru taktik lain yang lebih dulu harus ia kejar sebelum namanya layak disejajarkan dengan Cruyff.
"Saya masih jauh dari banyak orang, apalagi dia," ujar Fabregas.
Untuk memperkuat argumennya, Fabregas mengutip pernyataan Jose Mourinho yang membagi pelatih ke dalam dua kelompok: mereka yang sudah meraih gelar dan mereka yang belum. Menurut Fabregas, dirinya saat ini jelas masuk ke dalam kelompok kedua karena belum memiliki trofi apa pun sebagai pelatih.
Sikap rendah hati ini menunjukkan cara Fabregas memandang posisinya di dunia kepelatihan. Ia tidak ingin perhatian publik teralih dari pekerjaan yang sedang ia lakukan bersama Como, dan lebih memilih fokus pada proses pembangunan tim di lapangan.
Prioritas Utama adalah Como, Bukan Dirinya
Fabregas menegaskan bahwa hal terpenting dalam proyek ini bukanlah dirinya pribadi, melainkan Como sebagai klub. Ia menuturkan bahwa dirinya terlibat total dalam proyek tersebut dan memberikan seluruh kemampuannya untuk kemajuan tim.
Menurutnya, faktor kunci bagi seorang pelatih adalah waktu untuk bekerja. Fabregas menilai timnya telah berkembang sangat pesat dalam dua tahun terakhir, dan proses itu hanya bisa berlanjut jika ada kesinambungan.
Ia memberi gambaran konkret soal pentingnya stabilitas. Jika skuad yang sekarang bisa dipertahankan selama dua, empat, atau lima tahun, Fabregas yakin Como bisa mencapai sesuatu yang benar-benar berarti. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa perubahan skuad setiap enam bulan akan membuat tim sulit untuk naik ke level berikutnya.
Kebangkitan Como dan Modal dari Musim Lalu
Performa apik Como saat ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Pada musim sebelumnya, klub ini menorehkan pencapaian bersejarah dengan mengamankan tiket Liga Champions untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, dan tiket itu dipastikan pada hari terakhir kompetisi.
Fabregas adalah sosok yang mengawal kebangkitan Como sejak masih bermain di Serie B. Perjalanan dari kasta kedua hingga bisa berbicara di papan atas Serie A inilah yang membuat sebagian pengamat melihat kemiripan dengan dampak yang pernah ditimbulkan Cruyff di Barcelona.
Namun, capaian itu justru membuat Fabregas semakin berhati-hati dalam mengelola ekspektasi. Ia memilih menutup pintu perbandingan dan mengarahkan fokus sepenuhnya pada pekerjaan harian bersama tim.
Roma dan Inter Bukan Lawan Langsung Como
Di klasemen Serie A musim ini, hanya Roma dan Inter yang berhasil mengumpulkan poin lebih banyak dari Como. Kedua tim tersebut masing-masing mengantongi 12 poin dari empat pertandingan.
Roma dan Inter dijadwalkan saling berhadapan pada Sabtu. Fabregas menyatakan dirinya akan menonton laga itu, tetapi ia menegaskan bahwa alasan utamanya bukan karena keduanya dianggap rival langsung Como.
"Menurut saya, mereka adalah dua tim terkuat di Italia," kata Fabregas.
Ia menambahkan akan menyaksikan pertandingan tersebut karena kecintaannya pada sepak bola dan keyakinannya bahwa laga itu akan berlangsung menarik. Yang paling penting, Fabregas menegaskan bahwa Como tidak sedang berada dalam perburuan gelar juara musim ini.
Pemain yang Perlu Diwaspadai: Kvernadze dan Baturina
Dari kubu Frosinone, perhatian tertuju pada Giorgi Kvernadze. Pemain asal Georgia itu mencetak gol dalam dua penampilan terakhirnya di Serie A, dan hanya satu pemain Frosinone yang pernah mencetak gol dalam tiga pertandingan beruntun di kompetisi ini, yakni Matias Soule pada Oktober 2023.
Data statistik menempatkan Kvernadze sebagai pemain dengan dribel terbanyak di Serie A musim ini. Ia mencatat 28 percobaan dribel dan berhasil menyelesaikan 13 di antaranya, sebuah angka yang menunjukkan peran besarnya dalam serangan Frosinone.
Dari sisi Como, nama Martin Baturina layak disorot. Gelandang itu terlibat dalam tiga gol, terdiri dari dua gol dan satu assist, pada dua laga tandang terakhirnya di Serie A, dengan mencetak gol di masing-masing pertandingan melawan Napoli dan Genoa.
Menariknya, sepanjang tahun kalender ini hanya ada satu gelandang yang mampu mencetak gol dalam tiga laga tandang beruntun di Serie A, yaitu Scott McTominay dari Napoli pada rentang Februari hingga April. Baturina berpeluang menyamai catatan tersebut.
Prediksi Laga dan Peluang Menang
Sejak awal 2026, Como menjadi tim dengan koleksi poin tandang terbanyak di Serie A, yaitu 30 poin dari 13 pertandingan dengan rincian sembilan kemenangan, tiga imbang, dan satu kekalahan. Lini serang mereka di laga tandang juga setara dengan Inter, sama-sama mencetak 26 gol, dan empat di antaranya lahir pada laga tandang terakhir melawan Genoa.
Como juga memenangi dua laga Serie A terakhirnya melawan tim asal wilayah Lazio, yakni saat mengalahkan Roma dan Lazio pada 2026. Jika kembali menang, mereka bisa mencapai tiga kemenangan beruntun atas tim dari wilayah tersebut untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi ini.
Meski demikian, catatan pertemuan di kasta bawah memberi angin segar bagi Frosinone. Mereka memenangi empat dari lima laga liga terakhir melawan Como di Serie B dan Serie C, dan pada musim terakhir kedua tim bertemu, yakni 2022-23, Frosinone menang 2-0 di kedua pertemuan.
Frosinone juga punya modal lain. Setelah enam kekalahan beruntun dengan rata-rata kebobolan 3,5 gol per laga, mereka memenangi laga Serie A terakhirnya melawan tim asal Lombardia dengan skor 1-0 atas Monza pada Mei 2024, dan kini berpeluang mengalahkan lawan dari wilayah yang sama dalam dua laga berturut-turut di kasta tertinggi untuk pertama kalinya.
Berdasarkan perhitungan peluang dari Opta, kemenangan Como berada di angka 50,7 persen, hasil imbang 22,1 persen, dan kemenangan Frosinone 18,2 persen.
Kesimpulan
Fabregas memilih merendah di tengah sorotan yang semakin besar terhadap dirinya. Ia menolak perbandingan dengan Cruyff, menempatkan dirinya sebagai pelatih yang belum meraih gelar, dan menegaskan bahwa kemajuan Como adalah prioritas di atas segalanya.
Fokus pada stabilitas dan waktu kerja menjadi pesan utamanya. Dengan modal poin dan catatan tandang yang kuat, Como datang ke laga melawan Frosinone sebagai favorit—tetapi Fabregas jelas tidak ingin timnya terbawa ekspektasi yang terlalu besar.

