Rui Pinto: Gianni Infantino Tak Layak Pimpin Sepak Bola

Rui Pinto, hacker komputer yang membocorkan dokumen Football Leaks, menegaskan bahwa Presiden FIFA Gianni Infantino sudah tidak punya tempat di masa depan sepak bola. Pernyataan itu ia sampaikan lewat unggahan di platform X pada Rabu, tak lama setelah Manchester City dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan Premier League. Dalam pesannya, Pinto bahkan menyebut Infantino sebagai "kanker bagi sepak bola".

Serangan terbuka dari sosok yang dokumennya pernah mengguncang dunia sepak bola Eropa ini menambah panjang daftar tekanan yang dihadapi Infantino. Sebelumnya, Presiden UEFA dan Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV) sudah menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinannya di FIFA. Karena itu, pernyataan Pinto bukan sekadar komentar di media sosial, melainkan bagian dari gelombang ketidakpercayaan yang terus menguat menjelang pemilihan presiden FIFA pada 2027.

Rui Pinto

Tuduhan Rui Pinto kepada Gianni Infantino

Dalam unggahannya, Pinto mengulang tuduhan yang pertama kali mencuat pada 2018, yakni bahwa Gianni Infantino ikut campur untuk membantu Manchester City dan Paris Saint-Germain (PSG) menghindari sanksi financial fair play (FFP) dari UEFA. Saat itu, Infantino masih menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA sebelum kemudian memimpin FIFA. Menurut Pinto, pria berusia 37 tahun asal Portugal itu menyebut, "Back in 2014, there was a man who was already aware of the irregularities involving Manchester City."

Pinto melanjutkan bahwa Infantino, yang ia sebut sebagai "the infamous Gianni Infantino", menyalahgunakan wewenangnya saat menjadi sekretaris jenderal UEFA. Ia menuduh Infantino membagikan dokumen rahasia dan menyingkirkan kamar investigasi, sehingga memastikan kedua klub hanya menerima denda. Menurutnya, langkah itu mencegah penyelidikan lebih dalam yang berpotensi berujung pada larangan tampil di Liga Champions.

Pinto menegaskan bahwa seluruh rincian tersebut juga terungkap melalui Football Leaks. Ia menilai rekam jejak Infantino, baik semasa di UEFA maupun saat memimpin FIFA, sudah cukup untuk mencoretnya dari peta sepak bola. "Gianni Infantino has become a cancer on football and should have no place in the future of the game," tulisnya.

Jejak Football Leaks dan Investigasi Manchester City

Investigasi Premier League terhadap Manchester City berawal dari informasi yang dipublikasikan Football Leaks pada 2018 melalui media Jerman, Der Spiegel. Dokumen-dokumen tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan penyelidikan, di samping investigasi terpisah yang dijalankan UEFA selaku badan pengatur sepak bola Eropa. Dari situ, kasus pelanggaran aturan keuangan City berkembang menjadi salah satu perkara terbesar dalam sejarah kompetisi domestik Inggris.

Manchester City kini dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan Premier League dalam rentang sembilan tahun. Meski demikian, klub tersebut tetap membantah melakukan kesalahan apa pun. City masih memiliki waktu hingga 2 Oktober untuk mengajukan banding atas putusan tersebut.

Laporan Der Spiegel yang dikutip dalam perkara ini menyebut bahwa klub-klub yang terlibat menilai kesepakatan sponsor mereka terlalu tinggi agar tetap memenuhi aturan FFP. Ketika menghadapi sanksi, dokumen-dokumen itu menyatakan Infantino membantu mengatur hukuman yang lebih ringan pada 2014. Inilah bagian yang menjadi dasar tuduhan Pinto bahwa kedua klub seharusnya menghadapi pemeriksaan yang jauh lebih serius.

Bantahan PSG, UEFA, dan Infantino

PSG telah membantah seluruh tuduhan tersebut sejak awal. Dalam pernyataannya saat itu, klub asal Prancis itu menegaskan "has always acted in full compliance with the laws and regulations enacted by sports institutions" dan menyatakan menolak tuduhan yang dialamatkan kepadanya. PSG juga menambahkan bahwa sejak penerapan Financial Fair Play, mereka menjadi salah satu klub yang paling sering diaudit dan diperiksa dalam sejarah.

UEFA sendiri menekankan bahwa membantu urusan semacam itu memang masuk dalam lingkup tugas sekretaris jenderal. Lembaga itu menyatakan bahwa peran tersebut "may include discussions, meetings, assistance to help find solutions, and other interactions to assist the [investigating body] in its work". Dengan kata lain, UEFA menilai interaksi yang dilakukan Infantino masih berada dalam koridor tugas resminya.

Infantino juga memberi pembelaan serupa ketika tuduhan itu pertama kali muncul. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya memang mencakup "having discussions, having conversations, exchanging documents, drafts, ideas, whatever, on many, many, many, many, topics". Ia menambahkan, jika hal itu kemudian digambarkan sebagai sesuatu yang buruk, maka ia menilai tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjalankan tugasnya secara jujur, profesional, dan demi kepentingan sepak bola.

BBC Sport menyatakan telah menghubungi FIFA menyusul pernyataan terbaru Pinto. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari FIFA terkait pesan tersebut.

Tekanan Politik yang Menumpuk di Kursi FIFA

Posisi Gianni Infantino di FIFA kini kian tertekan, terutama setelah rencananya menjual sebagian saham turnamen Piala Dunia akhirnya dibatalkan. UEFA menuding Infantino melakukan "criminal mismanagement" atau salah urus yang bersifat pidana dalam skema Fifa Forward Enterprise (FFE). Tuduhan itu menjadi salah satu pukulan terbesar bagi kredibilitas kepemimpinannya.

Yang terbaru, Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV) resmi menarik dukungannya terhadap Presiden FIFA tersebut. Dalam pernyataannya, SFV menyebut keputusan itu diambil setelah melakukan penilaian ulang secara menyeluruh terhadap perkembangan beberapa bulan terakhir. "From the SFV's perspective, various incidents raise fundamental questions regarding leadership, governance, transparency and decision-making processes within Fifa," demikian bunyi pernyataan mereka.

Menariknya, baik FIFA maupun UEFA sama-sama berbasis di Swiss, negara yang sama dengan asosiasi yang kini menarik dukungan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kritik terhadap Infantino tidak hanya datang dari kompetitor, tetapi juga dari lingkungan terdekatnya. Tekanan yang datang dari dalam negeri sendiri biasanya menjadi sinyal paling serius bagi seorang pemimpin organisasi olahraga internasional.

Pemilihan 2027 dan Masa Depan Kepemimpinan FIFA

Infantino berencana mencalonkan diri untuk keempat kalinya pada pemilihan Maret 2027. Pihak-pihak yang ingin menantangnya memiliki waktu hingga 18 November untuk memunculkan kandidat alternatif. Tenggat itu menjadi momen penting untuk melihat apakah gelombang kritik yang ada saat ini akan berubah menjadi tantangan nyata di bilik suara.

Pernyataan Pinto, meski disampaikan oleh figur di luar struktur resmi sepak bola, menyentuh persoalan yang sudah lama mengendap: bagaimana FFP dijalankan dan sejauh mana kekuasaan seorang pejabat organisasi bisa memengaruhi hasil investigasi. Isu ini bukan hanya soal Manchester City atau PSG, tetapi juga soal kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi. Selama pertanyaan itu belum terjawab secara terbuka, sorotan terhadap Infantino diperkirakan tidak akan mereda.

Dengan rentetan tekanan dari UEFA, SFV, dan kini Pinto, posisi Infantino menjelang 2027 akan sangat bergantung pada bagaimana ia menjelaskan sejumlah keputusan kontroversial yang pernah ia ambil. Semua mata kini tertuju pada langkah berikutnya dari FIFA dan apakah ada kandidat yang berani maju menantangnya di tengah situasi sepanas ini.