Kontroversi Piala Dunia 2026: Infantino dan Trump Coreng Reputasi Sepak Bola

Ketika Politik Merusak Semangat Sepak Bola

Sepak bola selalu dikenal sebagai olahraga yang inklusif, demokratis, dan bisa dinikmati siapa saja. Nilai-nilai inilah yang membuat Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang pemersatu dunia. Namun, hubungan erat antara presiden FIFA Gianni Infantino dan mantan Presiden AS Donald Trump justru menimbulkan kontroversi besar yang mengotori panggung terbesar sepak bola dunia. Aliensi yang disebut oleh banyak pihak sebagai Faustian bargain ini telah mengorbankan integritas olahraga demi keuntungan politis.

Infantino dan Trump
US President Donald Trump (R) waves next to FIFA President Gianni Infantino (L) during the award ceremony of the 2026 World Cup football tournament final match between Spain and Argentina at the New York/New Jersey Stadium in East Rutherford on July 19, 2026. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Infantino dan Trump: Tanda Tangan yang Bermasalah

Sejak Amerika Serikat terpilih menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, Infantino terus berusaha mendekati Trump. Tujuannya jelas: mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah AS untuk FIFA. Namun, seperti yang sudah diduga, mendekati Trump justru berbalik merugikan. Infantino belajar bahwa merangkul Trump hanya akan mencoreng nama baik sepak bola secara keseluruhan.

Banyak penggemar sepak bola kecewa karena nilai-nilai olahraga dikhianati. Trump dikenal dengan kebijakan anti-imigran dan anti-asing yang keras, sementara sepak bola justru merayakan keberagaman. Di awal Piala Dunia, sempat terlihat bahwa fans dan tim tamu disambut hangat oleh warga AS. Namun, tindakan Infantino yang terus mendekati Trump membuat pesan positif itu pudar.

Kronologi Kontroversi Piala Dunia 2026

Beberapa insiden memperburuk citra FIFA di bawah kepemimpinan Infantino. Salah satunya adalah ketika Infantino membiarkan hubungan pribadinya dengan Trump memengaruhi hasil sanksi kartu merah pemain timnas AS, Folarin Balogun. Kasus ini memicu tuduhan nepotisme dan korupsi yang merusak kredibilitas federasi sepak bola AS di mata dunia.

Tidak hanya itu, Infantino juga menciptakan "penghargaan perdamaian" khusus untuk Trump. Dalam hitungan bulan setelah menerima penghargaan itu, Trump melancarkan intervensi militer di Venezuela, mengancam sekutu NATO, dan memulai perang melawan Iran yang membuat masa partisipasi tim Iran di Piala Dunia tidak menentu. Tindakan ini menunjukkan betapa Infantino rela mempertaruhkan reputasi FIFA hanya untuk menyenangkan Trump.

Dampak Buruk bagi Integritas Sepak Bola

Banyak pihak menilai bahwa apa yang dilakukan Infantino bukan sekadar pragmatisme, melainkan bentuk penjilatan yang berlebihan. Menurut laporan FairSquare, Infantino bahkan menyewa ruang kantor di Trump Tower meskipun FIFA sudah memiliki kantor permanen di Miami. Langkah ini dinilai sebagai pemborosan dana FIFA yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan sepak bola global.

Yang lebih memprihatinkan, Trump tidak memberikan keuntungan berarti bagi sepak bola. Sebaliknya, ia malah mengklaim telah ikut campur dalam proses disipliner FIFA, mengancam akan mencaplok Kanada, dan menyerang Meksiko sebagai tuan rumah bersama. Di masa depan, Trump disebut-sebut akan menahan jaminan pemerintah yang diperlukan untuk konfirmasi tuan rumah Piala Dunia Wanita 2031, demi memaksa FIFA mengadopsi kebijakan yang ia inginkan.

Reaksi dari Dalam dan Luar FIFA

Untungnya, mulai banyak suara yang menentang sikap Infantino. UEFA, sebagai konfederasi sepak bola Eropa, menyebut tindakan Infantino mengejar "kepentingan politik pribadi" yang tidak melayani olahraga. Mantan ketua komite tata kelola FIFA bahkan menyebutnya sebagai pelanggaran jelas terhadap kode etik FIFA.

  • Beberapa pejabat senior FIFA secara internal menolak upaya Infantino merangkul Trump.
  • Salah satu wakil presiden FIFA mengecam ancaman Trump terhadap kota tuan rumah tertentu.
  • Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia menyerukan penghapusan "hadiah perdamaian" dan mendukung investigasi etika terhadap Infantino.

Masa Depan Piala Dunia 2026 dan Sepak Bola Global

Banyak anggota FIFA mendukung pemilihan ulang Infantino, namun secara pribadi mereka mengeluhkan "tingkat kesombongan" sang presiden. UEFA bahkan mungkin mencari kandidat untuk menantang Infantino di masa depan. Semua federasi anggota FIFA memiliki tanggung jawab untuk melindungi integritas olahraga, bahkan jika harus menghadapi risiko pembalasan.

Dalam jangka pendek, diharapkan federasi di seluruh dunia berani menentang visi Infantino. Dalam jangka panjang, perlu dilakukan reformasi tata kelola yang memindahkan kekuasaan dari presiden FIFA ke Dewan, Kongres, dan Sekretaris Jenderal. Dengan begitu, tidak ada satu individu pun yang bisa bertindak sepihak merugikan sepak bola.

Mungkin warisan terbesar Piala Dunia 2026 nanti bukanlah kesuksesan komersial, melainkan momentum untuk bersuara dan membela nilai-nilai yang membuat sepak bola menjadi olahraga rakyat. Seperti yang dikatakan Nathán Goldberg Crenier, wakil presiden US Soccer Federation, dalam editorial pribadinya: sudah saatnya para pemimpin sepak bola menolak pandangan egotistis dan transaksional terhadap olahraga yang indah ini.

Artikel ini merupakan opini pribadi dan tidak mencerminkan posisi resmi US Soccer Federation.