Nico O'Reilly, gelandang muda Manchester City, resmi dinobatkan sebagai Young Player of the Year dalam ajang PFA Awards. Dalam momen tersebut, ia secara khusus menyebut mantan manajer City, Pep Guardiola, sebagai sosok kunci di balik pesatnya perkembangan kariernya di klub. Penghargaan ini menjadi penutup manis dari musim 2025-26 yang luar biasa bagi pemain berusia 21 tahun tersebut.
O'Reilly menggantikan Morgan Rogers sebagai penerima penghargaan yang dipilih langsung oleh sesama pemain profesional itu. Ia tampil impresif sepanjang musim lalu dan membantu Manchester City meraih dua trofi. Makna penghargaan ini tentu sangat istimewa baginya, apalagi mengingat perjalanannya yang dimulai dari akademi klub.

Musim 2025-26: Penampilan Moncer O’Reilly Bersama City
Musim 2025-26 menjadi titik balik dalam karier Nico O'Reilly di skuad utama Manchester City. Pemain didikan akademi City tersebut tampil dalam 55 pertandingan di semua kompetisi, dengan kontribusi sembilan gol dan enam assist. Catatan tersebut menempatkannya sebagai pemain dengan kontribusi gol kelima tertinggi di seluruh skuad The Citizens pada musim itu.
Salah satu momen paling berkesan tentu saja saat O'Reilly mencetak dua gol dalam kemenangan Manchester City atas Arsenal di partai final EFL Cup. Dengan torehan itu, ia menjadi pemain termuda ketiga yang mampu mencetak brace di final kompetisi tersebut, tepatnya pada usia 21 tahun dan satu hari. Momen-momen seperti inilah yang kemudian mengantarnya meraih penghargaan bergengsi dari PFA.
Perjalanan O'Reilly di tim senior City sendiri dimulai saat ia menjalani debut pada ajang Community Shield 2024. Sejak saat itu, ia perlahan menjadi bagian penting dalam rotasi tim. Pada musim lalu, ia akhirnya menjadi langganan di susunan pemain utama dan menjelma sebagai salah satu talenta muda paling bersinar di Premier League.
Guardiola: Sosok di Balik Kesuksesan O’Reilly
O'Reilly tidak pernah melupakan jasa Guardiola dalam perjalanan kariernya di Manchester City. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya secara terbuka, mengakui bahwa kepercayaan yang diberikan Guardiola sangat berarti baginya. Menurutnya, tanpa dukungan Guardiola, ia mungkin tidak akan berada di posisinya saat ini.
"Pep adalah manajer yang hebat. Dia menaruh kepercayaan kepada saya, sesuatu yang hanya bisa saya syukuri. Dia banyak membantu saya, baik di dalam maupun di luar lapangan, sebagai pribadi," ujar O'Reilly. "Jika bukan karena dia, saya tidak akan berada di posisi saya sekarang. Terima kasih untuknya." Ucapan tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Guardiola dalam membentuk karier pemain muda asal akademi City itu.
O'Reilly juga menyampaikan betapa bangganya ia bisa memenangkan penghargaan yang dipilih oleh rekan-rekan sesama pemain. Ia menyadari bahwa para pemenang sebelumnya telah melanjutkan karier mereka dengan pencapaian besar. Baginya, bisa menjadi bagian dari tim Manchester City saja sudah terasa luar biasa, apalagi bisa membantu tim meraih trofi.
"Tentu saja penghargaan ini sangat berarti karena datang dari pengakuan sesama pemain yang bermain bersama saya. Memenangkan penghargaan sebesar ini adalah sesuatu yang luar biasa," tambahnya. "Para pemain yang pernah memenangkan ini sebelumnya telah melakukan hal-hal besar sendiri. Bahkan untuk menjadi bagian dari tim ini saja sudah merupakan perasaan yang luar biasa."
Adaptasi O’Reilly di Era Enzo Maresca
Setelah Guardiola hengkang, O'Reilly kini berada di bawah arahan manajer anyar, Enzo Maresca. Pada laga pembuka musim 2026-27, ia diturunkan sebagai gelandang serang dalam kemenangan comeback Manchester City atas Bournemouth. Penempatan tersebut menunjukkan bahwa Maresca juga memiliki kepercayaan besar terhadap kemampuan pemain muda asal akademi tersebut.
Transisi kepemimpinan dari Guardiola ke Maresca tentu menjadi masa adaptasi bagi seluruh pemain City. Namun, O'Reilly menunjukkan bahwa ia siap menghadapi tantangan baru tersebut. Konsistensi penampilannya menjadi modal berharga untuk bersaing memperebutkan tempat utama di musim ini.
Preview Laga: City Tantang Crystal Palace
Manchester City kini mengalihkan fokus mereka ke laga Premier League berikutnya, yaitu bertandang ke Selhurst Park untuk menghadapi Crystal Palace yang kini ditangani Pierre Sage, Jumat mendatang. Palace sendiri mengawali musim Premier League 2026-27 dengan kekalahan 2-0 dari Everton di Hill Dickinson Stadium. Gol-gol kemenangan Everton dicetak oleh Kiernan Dewsbury-Hall dan Thierno Barry.
Menariknya, Palace mencatatkan expected goals (xG) sebesar 2,04, yang merupakan catatan xG tertinggi mereka dalam satu pertandingan Premier League tanpa mencetak gol sejak Desember 2018 melawan Cardiff (2,1). Bek Palace, Chris Richards, pun mengakui bahwa timnya perlu melakukan perbaikan di berbagai aspek. Meski kalah, performa Palace sebenarnya tidak terlalu buruk jika dilihat dari peluang yang mereka ciptakan.
"Meningkatkan segalanya, di liga musim lalu kami turun sedikit lebih rendah dari yang kami inginkan. Akan luar biasa rasanya memenangkan trofi," kata Richards. "Kami sudah merasakan rasanya, jadi akan sangat bagus untuk menang tiga tahun berturut-turut. Tempat ini [Everton] memang tempat yang sulit untuk dimainkan, apa pun tahap musimnya."
Richards juga menekankan pentingnya memanfaatkan peluang di laga pembuka musim. Ia menilai Everton berhasil membawa momentum di babak kedua, sehingga Palace harus berjuang ekstra keras. Pelajaran dari kekalahan ini diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi menjelang laga berat melawan City.
Pemain yang Wajib Dipantau
Adam Wharton (Crystal Palace)
Adam Wharton menjadi salah satu pemain yang patut diwaspadai Manchester City pada laga nanti. Pada pekan pertama Premier League 2026-27, hanya dua pemain yang mencatatkan lebih banyak line-breaking pass di sepertiga akhir lapangan dibandingkan Wharton, yang mencatatkan 13 kali. Selain itu, Wharton juga berhasil memenangkan penguasaan bola sebanyak delapan kali, menjadi pemain dengan raihan terbanyak ketiga bersama di pekan tersebut.
Erling Haaland (Manchester City)
Di kubu Manchester City, Erling Haaland menjadi senjata utama yang diandalkan. Meski gagal mencetak gol pada laga pembuka, Haaland memiliki rekor fantastis saat menghadapi Crystal Palace. Ia selalu mencetak gol dalam lima pertandingan Premier League melawan Palace, dengan total delapan gol.
Rekor tersebut menjadikannya pemain dengan catatan 100 persen mencetak gol terbanyak melawan satu lawan tertentu di kompetisi ini. Hanya Raheem Sterling dan Mohamed Salah yang pernah mencetak gol dalam enam pertandingan pertama mereka melawan satu tim, yaitu Bournemouth. Haaland tentu berpeluang menyamai atau bahkan melampaui catatan tersebut jika kembali menjebol gawang Palace.
Prediksi dan Probabilitas Kemenangan
Berdasarkan data dari Opta, Manchester City diunggulkan memenangkan pertandingan melawan Crystal Palace. Probabilitas kemenangan City tercatat sebesar 57,5 persen, sementara peluang Palace untuk menang hanya 19,8 persen. Adapun peluang hasil imbang berada di angka 22,7 persen.
Catatan historis juga mendukung City. Mereka belum pernah kalah dalam 11 pertandingan tandang Premier League terakhir melawan Palace, dengan delapan kemenangan dan tiga hasil imbang. Terakhir kali City kalah di kandang Palace terjadi pada April 2015 silam, saat masih ditangani Manuel Pellegrini.
Namun, ada beberapa catatan yang perlu diwaspadai City. The Citizens hanya memenangkan empat dari sepuluh pertandingan tandang liga pada 2026, dengan lima imbang dan satu kekalahan. Selain itu, Maresca juga gagal meraih kemenangan dalam tiga pertandingan tandang terakhirnya bersama Chelsea di liga, dengan dua imbang dan satu kekalahan.
Catatan Maresca saat menghadapi tim dengan formasi tiga bek juga menarik untuk disimak. Setelah memenangkan tujuh dari 12 pertandingan Premier League pertamanya melawan tim yang memulai dengan tiga bek, ia hanya memenangkan empat dari sepuluh laga terakhirnya. Ia bahkan kalah dalam tiga dari lima pertandingan terakhirnya melawan gaya permainan seperti itu.
Palace sendiri sedang dalam tren kurang baik, dengan hanya dua kemenangan dalam 22 pertandingan Premier League terakhir melawan City. Mereka juga belum meraih kemenangan dalam delapan pertandingan liga terakhir secara keseluruhan. Meski begitu, statistik menunjukkan bahwa Palace sebenarnya tampil impresif pada laga pembuka dengan open play xG sebesar 1,96, hanya kalah dari Brighton (3,54), dan mereka menjadi tim dengan underachievement terbesar musim lalu dengan selisih -12,9 antara gol dari open play dan xG.
Secara keseluruhan, penghargaan PFA Young Player of the Year ini menjadi bukti nyata kualitas Nico O'Reilly yang terus berkembang di Manchester City. Perpaduan antara bimbingan Guardiola di masa lalu dan kepercayaan Maresca di era baru membuatnya tampil percaya diri. Kini, semua mata akan tertuju pada aksinya bersama City, dimulai dari laga tandang melawan Crystal Palace.
Jika ia mampu mempertahankan performa seperti musim lalu, bukan tidak mungkin prestasi yang lebih besar akan menyusul. City pun berharap O'Reilly bisa menjadi salah satu kunci kebangkitan mereka di musim 2026-27. Satu hal yang pasti, pemain muda ini baru saja menulis awal yang indah dalam kisah kariernya.
