Pelatih Timnas Spanyol, Luis de la Fuente, menegaskan bahwa ia tidak akan menerapkan strategi man-marking khusus kepada Lionel Messi pada laga final Piala Dunia melawan Argentina. Keputusan ini diambil meskipun ia memiliki pengalaman pahit saat pertama kali berhadapan dengan sang megabintang. Messi sejauh ini telah mencetak delapan gol dan memberikan empat assist di turnamen, menjadikannya ancaman terbesar bagi lini pertahanan Spanyol.
Dalam sesi konferensi pers jelang pertandingan final di New Jersey, De la Fuente berbagi cerita tentang pertemuan pertamanya dengan Messi, 22 tahun lalu. Saat itu Messi masih berusia 16 tahun dan menjalani masa perkembangan di Barcelona, sementara De la Fuente adalah pelatih tim muda Sevilla.
Kisah Man-Marking yang Berakhir Bencana
De la Fuente mengingat momen lucu yang sekaligus menjadi pelajaran berharga. “Saya akan cerita sesuatu tentang Messi. Saat saya melatih Sevilla di División de Honor (liga U-19 nasional), kami bertemu Barcelona di babak 16 besar Piala Raja. Kami pergi ke Barcelona. Saat itu sudah banyak yang membicarakan seorang anak bernama Messi,” ujarnya.

“Kami pun memasang pemain khusus untuk menjaga Messi. Hingga menit ke-70 skor masih 0-0. Saat pemain yang menjaganya mendapat kartu kuning, saya menariknya keluar. Dalam 15 menit berikutnya, Messi mencetak empat gol,” lanjut De la Fuente sambil tertawa.
Pengalaman itu membuat banyak orang bertanya-tanya apakah Spanyol akan kembali menggunakan taktik serupa. Namun De la Fuente menjawab tegas: “Apakah itu berarti kami akan man-mark dia sekarang? Tidak. Apakah kami akan memberikan perhatian ekstra padanya? Ya, tapi sama seperti mereka juga harus waspada terhadap pemain-pemain kami.”
Mengapa De la Fuente Tidak Akan Man-Mark Messi Lagi
Keputusan ini didasarkan pada filosofi sepak bola Spanyol yang mengedepankan permainan kolektif. De la Fuente lebih percaya pada sistem pertahanan zona yang disiplin daripada mengandalkan penjagaan satu lawan satu. Dengan kecepatan dan kecerdasan Messi dalam membaca ruang, man-marking justru bisa membuka celah bagi pemain Argentina lainnya.
“Kami akan tetap fokus pada Messi, tapi tanpa mengorbankan struktur tim. Pertandingan ini adalah pertarungan antara dua tim super, bukan duel individu,” tegasnya.
Lamine Yamal Bukan Messi Baru
Saat ditanya apakah Lamine Yamal bisa dibilang sebagai versi Messi-nya Spanyol, De la Fuente dengan tegas membantah. “Lamine harus menjadi Lamine. Messi tidak akan pernah terulang. Dia adalah bakat luar biasa, dan terutama menjadi contoh bagi pemain muda dalam sikap, perilaku, serta Piala Dunia spektakuler yang ia tunjukkan di usianya yang masih sangat muda,” jelasnya.
De la Fuente menambahkan bahwa pertandingan nanti akan menjadi tontonan hebat antara dua tim terbaik, penuh bakat, cemerlang, dan permainan indah.
Membela Argentina: Bukan Tim Kotor
Pelatih berusia 63 tahun itu juga menepis anggapan bahwa Argentina kerap menggunakan taktik licik atau “dark arts”. Ia menyebut Argentina sebagai tim yang patut dikagumi. “Tolong. Saya menghormati semua pendapat, tapi tidak, saya tidak setuju dengan gambaran itu. Saya punya kekaguman luar biasa pada tim yang telah juara Copa América 2021, Piala Dunia, Copa América 2024, dan Finalissima. Tidak ada yang pernah melakukannya dalam sejarah. Dan mereka dilatih oleh teman saya, Lionel Scaloni. Kekaguman, kekaguman, kekaguman. Kami semua akan menggunakan senjata sepak bola kami sendiri,” ujarnya.
Final Bukan Ajang ‘All or Nothing’
De la Fuente juga meremehkan anggapan bahwa final ini adalah segalanya atau tidak sama sekali. “Yang penting adalah bisa berada dalam posisi untuk memenangkannya. Mari kita nikmati, mainkan sepak bola kita, hargai ini. Jika Anda bilang kami bisa bermain di final Piala Dunia setiap tahun dan kalah, saya akan mendaftar untuk itu,” kata De la Fuente.
Ia hanya takut pada satu hal: fakta bahwa FIFA memaksanya naik helikopter dari New Jersey ke acara pra-pertandingan di Manhattan, dan ia harus kembali lagi. Ia juga tidak terkesan dengan acara FIFA yang heboh dan kacau, yang oleh Scaloni disebut “surreal”. Saat acara berlangsung, De la Fuente kesulitan bicara karena sorak-sorai penonton yang meneriakkan nama Messi.
“Sejak kecil saya diajarkan untuk menghormati semua orang; kita harus belajar pelajaran ini,” katanya kepada kerumunan.
Kesimpulan: Pertarungan Taktik dan Mental
Pertandingan final nanti tidak hanya akan menjadi ujian taktik, tetapi juga mental. De la Fuente telah belajar dari pengalaman 22 tahun lalu bahwa man-marking bukanlah solusi jitu untuk menghentikan Messi. Sebaliknya, ia mengandalkan kolektivitas tim Spanyol yang solid. Di sisi lain, Messi yang tengah dalam performa terbaiknya akan menjadi ancaman konstan. Siapa pun yang mampu mengelola tekanan dan memanfaatkan peluang dengan lebih baik berpeluang besar membawa pulang trofi.
